SINTAKSIS FRASE
SINTAKSIS
A. Pengertian Sintaksis
Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk kalimat, klausa dan frase, berbeda dengan morfologi yang membicarakan seluk beluk kata dan morfem. (Tarigan, 1985:4 ; Ramlan, 2005:18). Sedangkan menurut (KBBI), sintaksis adalah pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar
B. Pengertian Frase
Frase adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, Yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa dan tidak melampaui batas fungsi unsur klausa (Tarigan, 1985:57 ; Ramlan, 2005:138). Sedangkan (Putrayasa, 2007 : 3) mengemukakan kelompok kata yang menduduki sesuatu fungsi di dalam kalimat disebut frase, walaupun tidak semua frase terdiri atas kelompok kata. Dan menurut (KBBI) frase adalah gabungan kata atau lebih yang bersifat non predikatif.
C. Jenis-jenis Frase
Menurut (Tarigan, 1985:57) berdasarkan tipe strukturnya, frase dibedakan menjadi dua yaitu frase eksosentris dan frase endosentris.
1. Frase Eksosentris
Frase eksosentris adalah frase yang tidak berhulu, tidak berpusat atau non-headed ataupun noncentered. Berdasarkan struktur internalnya, frase eksosentris ini disebut juga relater-axis phrase atau frase relasional (Bloch, 1968:165).
Berdasarkan posisi penghubung yang mungkin terdapat di dalamnya, maka frase eksosentris atau frase relasional ini pun dapat pula dibedakan menjadi frase preposisi; frase posposisi; dan frase presposisi.
a. Frase Presposisi
Frase presposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan.
Contoh:
Bahasa Indonesia:
di pasar
ke sekolah
dari warung
Bahasa Karo:
i rumah “di rumah”
ku tiga “ke pasar”
man nande “kepada ayah”
Bahasa Simalungun:
i juma “di ladang”
hu sabah “ke sawah”
han darat “dari luar”
han tiga “dari pasar”
Bahasa Inggris:
at school
by bus
for my mother
from bandung
b. Frase Posposisi
Frase posposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian belakang..
Contoh:
Bahasa Jepang:
ga “penanda subyek”
Heitai ga, kureta. “The soldier gave it to me”
o “penanda obyek”
Heitai o, mita. “I saw a soldier”
de “by means of; in, on, at”
Kisya de, kita. “I come by train”
e “to (of motion)”
Tookyoo e, itta. “I went toTokyo”
kara “from”
Sitamati kara, kaetta. “I returned from downtown”.
made “as far as”
Ginkoo made, aruite itta. “I walked as far as the bank”
ni “in, on, at”
Inaka ni, sunde iru. “I live in the country”.
to “with”
Tomodati to, hanasita. “I talked with a friend”.
dake “only”
Kusuri dake, utte iru. “they sell only drugs”
yori “more than”
Kore yori, yasui. “It’s cheaper than this”
c. Frase Presposisi
Frase presposisi adalah frase yang penghubungnya menduduki posisi di bagian depan dan di bagian belakang.
Contoh:
Bahasa Karo:
i juma nari “dariladang”
i tiga nari “daripasar”
i rumah nari “darirumah”
i Bandung nari “dariBandung”
2. Frase Endosentris
Frase endosentris adalah frase yang berhulu, yang berpussat atauheaded phrase, yaitu frase yang mempunyai fungsi yang sama dengan hulunya. Berdasarkan tipe strukturnya, frase endosentris ini dapat pula dibagi menjadi dua yaitu frase beraneka hulu, dan frase modifikatif.
a. Frase Beraneka Hulu
Frase beraneka hulu adalah frase yang mengandung lebih dari satu hulu. Berdasarkan struktur internalnya, frase beraneka hulu ini dapat pula dibagi menjadi dua yaitu frase koordinat; dan frase apositif.
a) Frase Koordinatif
Frase koordinatif (atau frase serial) adalah frase yang hulu-hulunya mempunyai referensi yang berbeda-beda. Selanjutnya, frase koordinatif ini pun dapat pula dibagi menjadi empat yaitu frase kordinatif nominal, frase koordinatif verbal, frase koordinatif ajektival, dan frase koordinatif adverbial
1. Frase koordinatif nominal
Frase koordinatif nominal adalah gabungan dua atau lebih frase yang bertipe nominal.
Contoh:
Kerbau, sapi dan domba itu dijualnya dengan harga murah.
Paman dan bibi tak pernah pergi ke Jawa.
Dia dan kamu tidak mempunyai hubungan darah.
2. Frase koordinatif verbal
Frase koordinatif verbal adalah gabungan dua atau lebih bentuk verba.
Contoh:
Kami berembuk dan berunding selama dua jam.
Pemuda-pemudi itubernyanyi dan menari sampai pagi.
Mereka bercanda dan bergurau dengan gembira.
3. Frase koordinatif ajektival
Frase koordinatif ajektival adalah gabungan dua atau lebih frase atau kata yang bertipe ajektival
Contoh:
Gadis itu cantik dan ramah.
Mahasiswa iturajin, tabah lagi tampan
Rambutnyapanjang, hitam dan ikal.
4. Frase koordinat adverbial
Frase koordinat adverbial adalah gabungan dua atau lebih frase atau kata yang bertipe adverbial.
Contoh:
Pemuda itu menjalankan mobilnya dengan tergesa-gesa dan cepat sekali.
Pikir dahulu baik-baik serta masak-masak sebelum mengerjakan sesuatu.
b) Frase Apostitif
Frase apositif adalah frase yang hulu-hulunya mempunyai referensi yang sama. Frase apostitif umumnya bersifat nominal.
Contoh:
Pak Amat, tukang pangkas itu, dipukul orang kemarin.
Si Inem, pelayan seksi itu bermain dengan baik sekali
Kita, orang awam ini tak perlu campur tangan.
b. Frase Modifikatif
Frase modifikatif adalah frase yang mengandung hanya satu hula. Frase modifikatif ini dapat pula dibedakan menjadi empat yaitu frase nominal, frase verbal, frase ajektival dan frase adverbial.
a) Frase Nominal
Frase nominal adalah frase modifikatif yang hulunya berupa nomina atau kata benda.
Contoh:
Orang kuat harus melindungi orang lemah.
Anak rajin memang pantas mendapat hadiah.
Saya lebih suka kopi manis daripada kopi pahit.
b) Frase Verbal
Frase verbal adalah frase yang modifikatif yang hulunya berupa verba atau kata kerja.
Contoh:
Saya akan pergi nanti sore ke rumah teman.
Siapa yang menyuruh kamu datang lagi ke sini?
Ayah belum pulang dari kantor.
c) Frase Ajektival
frase ajektival adalah frase modifikatif yang hulunya berupa ajektif atau kata keadaan.
Contoh:
Orang itu sangat kayatetapi amat kikir.
Guru kami pandai sekali bercerita
Harga mobil itu terlalu mahal.
d) Frase Adverbial
Frase adverbial adalah frase modifikatif yang hulunya berupa adverbial atau kata keterangan
Contoh:
Kalau tidak ada halangan, saya akan datang besok pagi
Dia pulang kemarin pagike kampungnya.
Nanti malam ada pertemuan kaum ibu di sini.
D. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas beberapa klausa bebas (Putrayasa, 2012:48). Hubungan pola-pola kalimat dalam sebuah kalimat majemuk dapat bersifat sederajat, rapatan, bertingkat, dan campuran. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang keempat macam kalimat majemuk tersebut, dibawah ini akan dipaparkan satu persatu.
1. Kalimat Majemuk Setara (KMS)
Kalimat majemuk setara adalah gabungan beberapa kalimat tunggal menjadi sebuah kalimat yang lebih besar, dan tiap-tiap kalimat tunggal yang digabungkan itu tidak kehilangan unsur-unsurnya.
Contoh:
a. K1 = Matahari terbenam di ufuk Barat.
b. K2 = Margasatwa kembali ke sarangnya.
c. K3 = Para petani segera pulang ke rumahnya masing-masing.
KMS: Matahari terbenam di ufuk Barat, margasatwa kembali ke sarangnya, dan para petani segera pulang ke rumahnya masing-masing.
2. Kalimat Majemuk Rapatan (KMR)
Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk yang terjadi dari penggabungan beberapa kalimat tunggal yang unsur-unsurnya sama dirapatkan atau dituliskan sekali saja (Putrayasa, 2014:57). Kalimat majemuk rapatan terdiri atas empat unsur yaitu:
i. KMR sama S, artinya subjek-subjek dirapatkan.
Contoh:
Benteng itu ditembaki, dibom bertubi-tubi, dan diratakan dengan tanah.
S. P1. P2. PP3
ii. KMR sama P, artinya predikat-predikat dirapatkan.
Contoh:
Sawahnya, pekarangannya, dan rumahnya digadaikan.
S1. S2. S3. P
iii. KMR sama O, artinya objek-objek dirapatkan.
Contoh:
Ayah menulis dan ibumengirimkan surat itu
S1. P1. S2. P2. O
iv. KMR sama K, artinya keterangan-keterangan dirapatkan.
Contoh:
Adik menimba air dan kakakmencuci pakaian di sumur.
S1. P1. O1. S2 P2. O2. KK
3. Kalimat Majemuk Bertingkat (KMB)
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan pola-polanya tidak sederajat, salah satu pada bagian yang lebih tinggi kedudukannya disebut induk kalimat, sedangkan bagian yang lebih rendah kedudukannya disebut dengan anak kalimat.
Contoh:
Kedatangannya disambut oleh rakyat kemarin
Kalau kalimat tunggal di atas diuraikan menurut jabatannya, akan terjadi:
Ø kedatangannya: subjek
Ø disambut: predikat
Ø oleh rakyat: objek pelaku
Ø kemarin: keterangan waktu.
4. Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat yang terdiri atas sebuah pola atasan dan sekurang-kurangnya dua pola bawahan, atau sekurang-kurangnya dua pola atasan dan satu atau lebih pola bawahan.
Contohnya dapat dilihat pada kalimat-kalimat di bawah ini
a. Satu pola atasan dan dua pola bawahan
Mahasiswa jurusan PBSID telah menyelenggarakan cerdas cermat bahasa Indonesia, yang diikuti oleh para siswa SMA, serta dihadiri juga oleh para guru mereka.
b. Dua pola atasan dan satu pola bawahan
Kepala sekolah menyerahkan hadiah itu dan meminta agar kami terus menyimpannya pada tempat yang sama, yang telah disediakan oleh pegawai.
D. Perluasan Frase
(Ramlan, 2005 : 144) Berdasarkan persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata. Frase dapat digolongkan menjadi empat golongan yaitu frase nominal, frase verbal, frase bilangan, dan frase keterangan.
1. Frase Nominal
Frase nominal ialah frase yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nomina. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran.
Contoh:
Ia membeli baju baru.
Ia membeli baju
Frase baju baru dalam klausa diatas mempunyai distribusi yang sama dengan kata baju. Kata baju termasuk golongan kata nomina. Karena itu, frase baju baru termasuk golongan frase nominal.
Contoh-contoh lain misalnya:
· Mahasiswa lama
· Gedung sekolah
· Guru yang bijaksana
· Kapal terbang itu
· Jalan raya ini
· Yang akan pergi
a) Kategori kata atau frase yang menjadi unsurnya
Secara kategorial frase nominal mungkin terdiri dari:
1. N diikuti N maksudnya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti oleh kata atau frase nominal sebagai UP/atr. Jadi semua unsurnya berupa kata atau frase nominal,
Misalnya:
i. rumah pekarangan
ii. ayah ibu
iii. suami isteri
2. N diikuti V, maksudnya diikuti dengan kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase verbal sebagai ATR. Misalnya
i. Mahasiswa lama
ii. Acara terakhir
iii. Rumah baru
3. N diikuti Bil, maksudnya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase bilangan sebagai ATR.
Misalnya:
i. Orang dua
ii. Petani dua orang
iii. Telur tiga butir
4. N diikuti ket, maksudnya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase keterangan sebagai Atr.
Misalnya:
i. Koran kemarin pagi
ii. Orang tadi
5. N diikuti FD, maksudnya frase ini terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, diikuti kata atau frase keterangan sebagai Atr.
Misalnya:
i. Beras dari Delanggu
ii. Kiriman untuk ibu
iii. Kereta api ke Surabaya
6. N didahului Bil, maksudnya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, didahului oleh kata atau frase bilangan sebagai Atr.
Misalnya:
i. Dua kertas kerja
ii. Dua buah sepeda baru
iii. Lima kodi kain batik
7. N didahului Sd, maksudnya terdiri dari kata atau frase nominal sebagai UP, didahului oleh kata sandang sebagai Atr.
Misalnya:
i. Si Ahmad
ii. Sang kancil
8. Yang diikuti N, maksudnya terdiri dari kata yang sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase nominal sebagai Aksisnya.
Misalnya:
i. Yang ini
ii. Yang itu
9. Yang diikuti V, maksudnya terdiri dari kata yang sebagai penanda, diikuti kata atau frase verbal sebagai aksisnya.
Misalnya:
i. Yang akann mengajar
ii. Yang sangat menderita
iii. Yang tidak naik kelas
10. Yang diikuti Bil, maksudnya terdiri dari kata yang sebagai penanda, diikuti kata atau frase bilangan sebagai aksisnya.
Misalnya:
i. Yang dua
ii. Yang tiga buah
iii. Yang sepuluh biji
11. Yang diikuti Ket, maksudnya terdiri dari kata yang sebagai penanda, diikuti kata atau frase keterangan.
Misalnya:
i. Yang kemarin siang
ii. Yang tadi
iii. Yang sekarang
12. Yang diikuti FD, maksudnya terdiri dari kata yang sebagai penanda, diikuti frase depan sebagai aksisnya.
Misalnya:
i. Yang dari Jepang
ii. Yang ke Surabaya
2. Frase Verbal
Frase Verbal atau frase golongan V ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata Verbal. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengaan jelas dari adanya jajaran :
Dua orang mahasiwa sedang membaca buku baru di perpustakaan
Dua orang mahasiswa – membaca buku baru di perpustakaan
Frase sedang membaca dalam klausa diatas mempunyai distribusi yang sama dengan kata membaca. kata membacajuga termasuk golongan V.
3. Frase bilangan
Frase bilangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan. Misalnya frase dua buah dalam dua buah rumah.Frase ini mempunyai distribusi yang sama dengan kata dua. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran.
Dua buah rumah
Dua – rumah
Kata dua termasuk golongan kata bilangan : karena itu, frasedua buah termasuk golongan frase bilangan.
4. Frase Keterangan
Frase keterang ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan. Misalnya frase tadi malam yang mempunyai persamaan distribusi dengan kata tadi. Persamaan dostri usi itu dapat diketahui dari jajaran :
Tadi malam Ahmad menghadiri pertemuan keluarga.
Tadi – Ahmad menghadiri pertemuan keluarga.
Dari pengamatan terhadap bahasa Indonesia diperoleh sejumlah kata keterangaan,kemarin, tadi, nanti, besok, lusa, sekarang.
5. Frase Depan
Frase depan ialah frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksisnya. Misalnya :
i. Di sebuah rumah
ii. Dengan sangat tenang
iii. Dari lima
iv. Sejak tadi pagi
Frase di sebuah rumahterdiri dari kata depan disebagai penanda, diikuti frasesebuah rumah sebagai aksisnya : frase dengan sangat tenangterdiri dari kata depan dengansebagai penanda, diikuti frasesangat tenang sebagai aksisnya; frase dari lima terdiri dari kataa depan dari sebagai penanda, diikuti kata limasebagai aksisnya; dan frasesejak tadi pagi terdiri dari kata depan sejak sebagaai penanda, diikuti frase tadi pagi sebagaai aksisnya.
DAFTAR PUSTAKA
Putrayasa, Ida Bagus. (2012). Jenis Kalimat Dalam Bahasa Indonesia.Bandung: PT Refika Aditama.
Putrayasa, Ida Bagus. (2014). Analisis Kalimat Fungsi, Kategori, dan Peran.Bandung: PT Refika
Aditama.
Ramlan, M. (2005). Ilmu Bahasa Sintaksis. Yogyakarta: C.V. “KARYONO”.
Tarigan, Henry Guntur (1985). Prinsip-Prinsip Dasar Sintaksis. Bandung: ANGKASA.
Komentar
Posting Komentar