Cerpen Festival Puisi Bangkan 2
Bukan Education Park
Nurfiantini Rostina
"Teman-teman ini bagikan!" teriak Riska.
"Apa itu, Ris?" tanyaku sambil menerima lembaran yang Riska berikan.
Suasana kelas yang semula ramai kini menjadi sepi ketika Riska mulai menjelaskan maksud dari lembaran itu. Yang semua isi acaranya pulang sampai malam.
"Sampai malam? Rumahku kan jauh," Bela mengeluh.
"Bukan kamu aja! aku juga jauh aku juga jauh!" Puput ikut mengiyakan keluhan dari Bela.
"Bagaimana kalau kita ngekost 2 atau 3 hari aja? Di depan pasar ada," Mala menimpali pembicaraan antara Bela dan Puput.
Sementara aku hanya diam dan membaca berulang kali lembaran yang sedang aku pengang. Jumat siang dan sore, Sabtu siang dan sore. Pasti akan jadi hari yang sangat melahkan. Aku lagi-lagi hanya diam. Melihat keadaan kelas yang mulai ramai kembali dengan pembicaraan teman-teman heboh.
Sebelumnya perkenalkan namaku Nurfiantini Rostina semester 4B Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bangkalan. Anak pertama dari 3 bersaudara. Lahir di Bangkalan 5 September 1996. Yah, sekarang aku berusia 20 tahun. Badanku gak tinggi juga gak pendek tapi cukuplah buat ukuran anak SMP. Mataku sipit buah dari Bapak tersayangku. Berat badan? Ups, jangan bicara berat badan pada wanita yaa! itu sangat sensitif. Sekarang kita kembali ke cerita yuks.
Bela, Mala, dan Puput sudah heboh dengan rencara ngekost mereka. Kesempatan dalam kesepitan atau sekali mendayung dua tiga pulau terlampoi mereka pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk bersenang-senang. Bisa kulihat dari ekspresi mereka yang terlewat antusias. Apalagi ada malam minggu semakin merdekalah mereka.
"Fin, Sabtu Bela ulang tahun," kata Mala sambil berbisik karena di depan kami ada Bela.
"Hmm terus? Mau buat acara apa? Kejutan di mana?" kataku menanggapi ucapan mala.
"Sebentar aku tanya Puput," jawab Mala.
Entah ada apa dan mengapa hari ini aku benar-benar tidak bersemangat. Tidak ada keinginan untuk mencari tahu tentang Festival Puisi Bangkalan 2 ini. Aku keluar krlas untuk mencari udara segar dan menyegarkan pikiran. Melihat pohon di depan kelas dan menatap lagit cerah menikmati angin yang menimpa wajahku.
Aku melihat anggota HIMABA di depan kelas 3C, aku tahu sekarang lagi ada acara dan setelah mata kuliah dari Pak Helmi adalah Pak Bagus, sementara itu Pak Bagus merupakan panitia dari acara itu.
"Pak Bagus hari ini ngajar gak?" tanyaku pada anggota HIMABA itu yang aku sendiri tidak tahu namanya. Aku bisa mengetahui mereka anggota HIMABA dari seragam yang mereka kenakan.
"Kemungkinan enggak soalnya Pak Bagus panitia, memangnya kenapa? Sekarang jam kuliah Pak Bagus kelas B?" tanya salah satu dari mereka.
"Bukan sekarang, tapi jam terakhir. Pastinya Pak Bagus gak bisa ngajar ya?" tanyaku memastikan.
"Iya, Pak Bagus gak bisa ngajar hari ini," jawab mereka.
Mendengar hal itu yang sangat ingin aku lakukan untuk saat ini adalah pulang. Pulang satu-satunya cara agar moodku kembali membaik. Aku kembali ke kelas untuk mengambil tasku dan meminta Mala mengantarku sampai pintu gerbang karena tadi berangkat sekolah aku nebeng ke Bela jadi untu pulang sebelum waktunya aku harus naik angkutan umum.
"Fin beneran kamu mau pulang? Kenapa?" tanya Bela ketika sampai di pintu gerbang menyusulku.
"Iya Bel, aku capek gak semangat untuk hari ini," jawabku dengan malas.
"Fin itu angkotnya!! Pak Pak!!" kata Mala cepat-cepat sambil melambaikan tangannya pada mobil yang sedang lewat.
"Ya sudah, aku pulang dulu yaa," jawabku sambil naik ke dalam angkot.
Ketika angkot mulai berjalan satu-satunya yang ada di pikiranku ketika sampai rumah adalah tidur. Aku tidak hanya malas untuk hari ini juga ditambah dengan lelah.
Sampai di rumah aku langsung mengganti pakian. Membasuh muka dan menonton tv sambil baring di atas kasur. Uh! akhirnya pinggangku menyentuh kasur.
Ponselku berbunyi menandakan ada satu pesan masuk. Aku meraih ponselku melihat siapa yang mengimkan pesan ini dari tunanganku. Sejak setahun lalu aku sudah bertunangan dengan kekasihku Farid setelah 4 tahun kami bersama.
Sayang sini ke rumah, ada pengajian buat mamak umroh.
Hah lagi? inilah alasanku tidak bersemangat berangkat ke kampus tadi pagi. Semalaman aku lelah membantu mempersiapkan pengajian yang akan di adakan besok. Jadi, mau tidak mau aku harus ke sana. Aku bergegas mandi dan mengambil wudu untuk melaksanakan salat Duhur. Setelah itu aku berangkat menuju rumah Fared.
Sampai di sana aku langsung membantu. Jika boleh jujur aku sangat-sangat lelah. Butuh tidur butuh istirahat. Banyak orang yang menbantu mempersiapkan pengajian meskipun begitu aku harus tetap membantu.
Jam menunjukkan pukul 21.10 aku harus segera pulang dan beristirahat.
Aaahhh sudah pagi lagi sekilas aku melirik jam yang menunjukkan pukul 03.30 aku segera bangun dan mandi. Yah selain bersekolah aku juga membantu Mama Fared berjualan daging di pasar. Pulang dari pasar aku langsung sekolah. Itulah kegiatan rutinku setiap pagi.
Sampai pada hari Jumat setelah pulang dari pasar aku menyempatkan diri untuk tidur, karena setelah itu aku harus ke Pendopo untuk menghadiri acara Festival Puisi Bangkalan 2.
Aku raih ponsel yang berada di atas meja dan menekan tombol panggil di kontak Aan.
"Tuuttt… tuutttt…"
"Halo, apa Fian?" Aan menjawab panggilanku.
"An, ada dimana? Ada acara? Gak sibuk kan? Ikut aku yuk!" jawabku tanpa menunggu jawaban dari Aan.
"Ke mana Fian? Iyaa aku gak ada kerjaan," jawab Aan.
"Ikut aku ke Festival Puisi Bangkalan 2 di Pendopo depan SMA 2 Bangkalan, siap-siap ya, ntar lagi aku jemput," langsung kumatikan panggilanku pada Aan.
Aku mengendarai motor menuju rumah Aan. Sampai di sana Aan sudah siap dan kami langsung berangkat menuju Festival Puisi Bangkalan 2. Ramai, anak-anak sudah memenuhi kursi yang disediakan oleh panitia. Aku melihat kursi kosong di paling belakang kemudian menarik tangan Aan dan duduk di sana.
"Kita di sini saja," ucapku pada Aan.
Foto-foto dan rangkaian kata diletakkan pada setiap tempat. Ada batu-batu yang bertuliskan kata-kata, kabel yang di rangkai sehingga membentuk sesuatu. Menurutku semua hal yang ada di ruangan ini adalah sederhana tetapi mendapat sentuhan dari tangan handal sehingga membentuk sesuatu yang istimewa.
Ketika acara belum dimulai aku menyampatkan diri untuk makan dan minum sesuatu. Berkeliling mencari makanan sehingga aku dapat melihat melihat Abang Pentol dan mulai menghampiri untuk membrli, lumayan buat pengganjal lapar. Tidak lupa aku membelikan juga buat Aaan yang sedang mengobrol dengan teman satu kelasnya. Yah, aku dengan Aan memang seumuran dan satu kelas ketika SMP dan SMA tetapi saat lulus SMA Aan tidak langsung melanjutkan sekolah tetapi nganggur, istirahat dulu katanya. Aku mulai mengikuti acara yang akan di mulai.
Pembukaan sudah di mulai pertama-tama adalah sambutan dari para tamu yang hadir. Kemudian penampilan musikalisasi puisi dari Sanggar Pelangi, Pak Helmi pernah membawa mereka ke kampus dan aku melihat penampilan mereka dengan takjub. Tidak bosa. dan mungkin tidak akan pernah bosan. Sempat aku dengar pembicaraan teman Pak Rozaki yang berdiri di belakangku "kadik nangesseh se ngedingagin" (seperti mau menangis yang dengerin). Hal itu membuktikan bahwa penampilan mereka memang sangat bagus.
Terlebih dengan satu perempuan yang membaca puisi , aku merasa senang melihat penampilannya, dia lugas dan pandai dalam berekspresi. bukan hanya raut wajahnya tetapi juga tubuh dan matanya seakan-akan ikut berbicara. Benar-benar penampilan yang sempurna pantas saja mereka mendapat juara satu. Sekali lagi aku bangga.
Setelah penampilan musikalisai puisi keadaan di ambil alih oleh Pak Buyung, dia berkata ada dorprise kursi siapa yang ada kertas bewarna kuning maka akan mendapat hadiah. Aku langsung mencari di mana letak kertas kuning dan hasilnya di kursiku tidak ada kertas kuning. Artinya aku tidak mendapat hadiah, itu saja. Setelah itu acara ditutup dan aku kembali pulang.
Pak Buyung adalah salah satu dosen dosen kesukaanku. Dia orangnya baik cara mengajarnya juga tidak membosankan, meskipun sering bercanda tetapi aku dapat mengerti ilmu yang dia sampaikan. Selain itu ada cerita Pak buyung yang selalu au ingat. Guru Pak Buyung selalu sabar sehingga dia mencontoh hal tersebut. Menurutku Pak Buyung berhasil, sangat berhasil.
Acara dilanjutkan pada hari dan yang membuatku sangat kesal adalah di lembaran tercantum pukul 18.30 tetapi acara dimulai pukul 8 kurang 10 menit. Benar-benar jam karet. Acara penampilan puisi dari para anggota Komunitas Masyarakat Lumpur dan merupakan panitia dari Festival Puisi Bangkalan 2. Kemudian dilanjutkan dengan "Memancing Sastra" dan acara selesai.
Sabtu aku menjalankan aktivitas seperti biasanya tidak ada yang berubah. Hanya saja lagi-lagi jam karet beraksi acara yang di lembarang akan dimulai jam 13.30 tapi sampai jam 2 belum juga di mulai. aku menghabiskan waktu dengan melihat sekeliling pendopo, melihat tiap kata yang terukir pada setiap gambar. ini benar-benar kegiatan yang sangat sangat menyenangkan. Bukan seperti belajar di dalam kelas yang hanya melihat kondisi kelas yang itu-itu saja.
"Coba aja tiap kita belajar seperti ini, aku pasti semangat!" ucap puput memulai pembicaraan.
"Belajar apa ngekost yang bikin kamu semangat?" aku menimpali.
"Hehehee.. aku juga mau kalo seperti ini setiap hari" Bela juga ikut mengiyakan pendapat Puput.
"Tidak apa-apa deh gak jalan sama Fared, di sini seru juga," Ucapku kembali.
Sampai pada acara selesai hingga Sabtu malam Minggu kita melewatinya dengan bersemangat. Senang rasanya ikut serta dalam acara seperti ini. Tidak membosankan hanya saja jam karetnya harus di kurangi.
"Eh, sebelum kita pulang gimana kalau kita ke Pameran? Mumpung aku ada di sini kan jarang-jarang kita bisa keluar malam bareng," kata Mala memberi usul.
"Nah, kalo ini aku tambah semangat. Ya sudah ayo kita berangkat," ajakku.
Setelah sampai di Pameran kita bekeliling dan melihat-melihat suasana yang ada di sini. Kita menaiki salah satu wahana yang ada di Pameran. Tidak terlalu lama kita berada di sini karena hari juga sudah cukup malam. So, kita kembali pulang.
Sampai di rumah aku memikirkan tentang acara Festival Puisi Bangkalan 2 menurutku ini bukan Education Park tetapi banyak ilmu yang dapat aku ambil dari acara ini. Menyenangkan, sangat menyenangkan meskipun bukan di dalam kelas kita juga bisa menyimak dan mendengarkan hal-hal yang disampaikan oleh pengisi acara. Mudah-mudahan ada acar seperti ini kembali. Amin.
Nurfiantini Rostina
"Teman-teman ini bagikan!" teriak Riska.
"Apa itu, Ris?" tanyaku sambil menerima lembaran yang Riska berikan.
Suasana kelas yang semula ramai kini menjadi sepi ketika Riska mulai menjelaskan maksud dari lembaran itu. Yang semua isi acaranya pulang sampai malam.
"Sampai malam? Rumahku kan jauh," Bela mengeluh.
"Bukan kamu aja! aku juga jauh aku juga jauh!" Puput ikut mengiyakan keluhan dari Bela.
"Bagaimana kalau kita ngekost 2 atau 3 hari aja? Di depan pasar ada," Mala menimpali pembicaraan antara Bela dan Puput.
Sementara aku hanya diam dan membaca berulang kali lembaran yang sedang aku pengang. Jumat siang dan sore, Sabtu siang dan sore. Pasti akan jadi hari yang sangat melahkan. Aku lagi-lagi hanya diam. Melihat keadaan kelas yang mulai ramai kembali dengan pembicaraan teman-teman heboh.
Sebelumnya perkenalkan namaku Nurfiantini Rostina semester 4B Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bangkalan. Anak pertama dari 3 bersaudara. Lahir di Bangkalan 5 September 1996. Yah, sekarang aku berusia 20 tahun. Badanku gak tinggi juga gak pendek tapi cukuplah buat ukuran anak SMP. Mataku sipit buah dari Bapak tersayangku. Berat badan? Ups, jangan bicara berat badan pada wanita yaa! itu sangat sensitif. Sekarang kita kembali ke cerita yuks.
Bela, Mala, dan Puput sudah heboh dengan rencara ngekost mereka. Kesempatan dalam kesepitan atau sekali mendayung dua tiga pulau terlampoi mereka pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk bersenang-senang. Bisa kulihat dari ekspresi mereka yang terlewat antusias. Apalagi ada malam minggu semakin merdekalah mereka.
"Fin, Sabtu Bela ulang tahun," kata Mala sambil berbisik karena di depan kami ada Bela.
"Hmm terus? Mau buat acara apa? Kejutan di mana?" kataku menanggapi ucapan mala.
"Sebentar aku tanya Puput," jawab Mala.
Entah ada apa dan mengapa hari ini aku benar-benar tidak bersemangat. Tidak ada keinginan untuk mencari tahu tentang Festival Puisi Bangkalan 2 ini. Aku keluar krlas untuk mencari udara segar dan menyegarkan pikiran. Melihat pohon di depan kelas dan menatap lagit cerah menikmati angin yang menimpa wajahku.
Aku melihat anggota HIMABA di depan kelas 3C, aku tahu sekarang lagi ada acara dan setelah mata kuliah dari Pak Helmi adalah Pak Bagus, sementara itu Pak Bagus merupakan panitia dari acara itu.
"Pak Bagus hari ini ngajar gak?" tanyaku pada anggota HIMABA itu yang aku sendiri tidak tahu namanya. Aku bisa mengetahui mereka anggota HIMABA dari seragam yang mereka kenakan.
"Kemungkinan enggak soalnya Pak Bagus panitia, memangnya kenapa? Sekarang jam kuliah Pak Bagus kelas B?" tanya salah satu dari mereka.
"Bukan sekarang, tapi jam terakhir. Pastinya Pak Bagus gak bisa ngajar ya?" tanyaku memastikan.
"Iya, Pak Bagus gak bisa ngajar hari ini," jawab mereka.
Mendengar hal itu yang sangat ingin aku lakukan untuk saat ini adalah pulang. Pulang satu-satunya cara agar moodku kembali membaik. Aku kembali ke kelas untuk mengambil tasku dan meminta Mala mengantarku sampai pintu gerbang karena tadi berangkat sekolah aku nebeng ke Bela jadi untu pulang sebelum waktunya aku harus naik angkutan umum.
"Fin beneran kamu mau pulang? Kenapa?" tanya Bela ketika sampai di pintu gerbang menyusulku.
"Iya Bel, aku capek gak semangat untuk hari ini," jawabku dengan malas.
"Fin itu angkotnya!! Pak Pak!!" kata Mala cepat-cepat sambil melambaikan tangannya pada mobil yang sedang lewat.
"Ya sudah, aku pulang dulu yaa," jawabku sambil naik ke dalam angkot.
Ketika angkot mulai berjalan satu-satunya yang ada di pikiranku ketika sampai rumah adalah tidur. Aku tidak hanya malas untuk hari ini juga ditambah dengan lelah.
Sampai di rumah aku langsung mengganti pakian. Membasuh muka dan menonton tv sambil baring di atas kasur. Uh! akhirnya pinggangku menyentuh kasur.
Ponselku berbunyi menandakan ada satu pesan masuk. Aku meraih ponselku melihat siapa yang mengimkan pesan ini dari tunanganku. Sejak setahun lalu aku sudah bertunangan dengan kekasihku Farid setelah 4 tahun kami bersama.
Sayang sini ke rumah, ada pengajian buat mamak umroh.
Hah lagi? inilah alasanku tidak bersemangat berangkat ke kampus tadi pagi. Semalaman aku lelah membantu mempersiapkan pengajian yang akan di adakan besok. Jadi, mau tidak mau aku harus ke sana. Aku bergegas mandi dan mengambil wudu untuk melaksanakan salat Duhur. Setelah itu aku berangkat menuju rumah Fared.
Sampai di sana aku langsung membantu. Jika boleh jujur aku sangat-sangat lelah. Butuh tidur butuh istirahat. Banyak orang yang menbantu mempersiapkan pengajian meskipun begitu aku harus tetap membantu.
Jam menunjukkan pukul 21.10 aku harus segera pulang dan beristirahat.
Aaahhh sudah pagi lagi sekilas aku melirik jam yang menunjukkan pukul 03.30 aku segera bangun dan mandi. Yah selain bersekolah aku juga membantu Mama Fared berjualan daging di pasar. Pulang dari pasar aku langsung sekolah. Itulah kegiatan rutinku setiap pagi.
Sampai pada hari Jumat setelah pulang dari pasar aku menyempatkan diri untuk tidur, karena setelah itu aku harus ke Pendopo untuk menghadiri acara Festival Puisi Bangkalan 2.
Aku raih ponsel yang berada di atas meja dan menekan tombol panggil di kontak Aan.
"Tuuttt… tuutttt…"
"Halo, apa Fian?" Aan menjawab panggilanku.
"An, ada dimana? Ada acara? Gak sibuk kan? Ikut aku yuk!" jawabku tanpa menunggu jawaban dari Aan.
"Ke mana Fian? Iyaa aku gak ada kerjaan," jawab Aan.
"Ikut aku ke Festival Puisi Bangkalan 2 di Pendopo depan SMA 2 Bangkalan, siap-siap ya, ntar lagi aku jemput," langsung kumatikan panggilanku pada Aan.
Aku mengendarai motor menuju rumah Aan. Sampai di sana Aan sudah siap dan kami langsung berangkat menuju Festival Puisi Bangkalan 2. Ramai, anak-anak sudah memenuhi kursi yang disediakan oleh panitia. Aku melihat kursi kosong di paling belakang kemudian menarik tangan Aan dan duduk di sana.
"Kita di sini saja," ucapku pada Aan.
Foto-foto dan rangkaian kata diletakkan pada setiap tempat. Ada batu-batu yang bertuliskan kata-kata, kabel yang di rangkai sehingga membentuk sesuatu. Menurutku semua hal yang ada di ruangan ini adalah sederhana tetapi mendapat sentuhan dari tangan handal sehingga membentuk sesuatu yang istimewa.
Ketika acara belum dimulai aku menyampatkan diri untuk makan dan minum sesuatu. Berkeliling mencari makanan sehingga aku dapat melihat melihat Abang Pentol dan mulai menghampiri untuk membrli, lumayan buat pengganjal lapar. Tidak lupa aku membelikan juga buat Aaan yang sedang mengobrol dengan teman satu kelasnya. Yah, aku dengan Aan memang seumuran dan satu kelas ketika SMP dan SMA tetapi saat lulus SMA Aan tidak langsung melanjutkan sekolah tetapi nganggur, istirahat dulu katanya. Aku mulai mengikuti acara yang akan di mulai.
Pembukaan sudah di mulai pertama-tama adalah sambutan dari para tamu yang hadir. Kemudian penampilan musikalisasi puisi dari Sanggar Pelangi, Pak Helmi pernah membawa mereka ke kampus dan aku melihat penampilan mereka dengan takjub. Tidak bosa. dan mungkin tidak akan pernah bosan. Sempat aku dengar pembicaraan teman Pak Rozaki yang berdiri di belakangku "kadik nangesseh se ngedingagin" (seperti mau menangis yang dengerin). Hal itu membuktikan bahwa penampilan mereka memang sangat bagus.
Terlebih dengan satu perempuan yang membaca puisi , aku merasa senang melihat penampilannya, dia lugas dan pandai dalam berekspresi. bukan hanya raut wajahnya tetapi juga tubuh dan matanya seakan-akan ikut berbicara. Benar-benar penampilan yang sempurna pantas saja mereka mendapat juara satu. Sekali lagi aku bangga.
Setelah penampilan musikalisai puisi keadaan di ambil alih oleh Pak Buyung, dia berkata ada dorprise kursi siapa yang ada kertas bewarna kuning maka akan mendapat hadiah. Aku langsung mencari di mana letak kertas kuning dan hasilnya di kursiku tidak ada kertas kuning. Artinya aku tidak mendapat hadiah, itu saja. Setelah itu acara ditutup dan aku kembali pulang.
Pak Buyung adalah salah satu dosen dosen kesukaanku. Dia orangnya baik cara mengajarnya juga tidak membosankan, meskipun sering bercanda tetapi aku dapat mengerti ilmu yang dia sampaikan. Selain itu ada cerita Pak buyung yang selalu au ingat. Guru Pak Buyung selalu sabar sehingga dia mencontoh hal tersebut. Menurutku Pak Buyung berhasil, sangat berhasil.
Acara dilanjutkan pada hari dan yang membuatku sangat kesal adalah di lembaran tercantum pukul 18.30 tetapi acara dimulai pukul 8 kurang 10 menit. Benar-benar jam karet. Acara penampilan puisi dari para anggota Komunitas Masyarakat Lumpur dan merupakan panitia dari Festival Puisi Bangkalan 2. Kemudian dilanjutkan dengan "Memancing Sastra" dan acara selesai.
Sabtu aku menjalankan aktivitas seperti biasanya tidak ada yang berubah. Hanya saja lagi-lagi jam karet beraksi acara yang di lembarang akan dimulai jam 13.30 tapi sampai jam 2 belum juga di mulai. aku menghabiskan waktu dengan melihat sekeliling pendopo, melihat tiap kata yang terukir pada setiap gambar. ini benar-benar kegiatan yang sangat sangat menyenangkan. Bukan seperti belajar di dalam kelas yang hanya melihat kondisi kelas yang itu-itu saja.
"Coba aja tiap kita belajar seperti ini, aku pasti semangat!" ucap puput memulai pembicaraan.
"Belajar apa ngekost yang bikin kamu semangat?" aku menimpali.
"Hehehee.. aku juga mau kalo seperti ini setiap hari" Bela juga ikut mengiyakan pendapat Puput.
"Tidak apa-apa deh gak jalan sama Fared, di sini seru juga," Ucapku kembali.
Sampai pada acara selesai hingga Sabtu malam Minggu kita melewatinya dengan bersemangat. Senang rasanya ikut serta dalam acara seperti ini. Tidak membosankan hanya saja jam karetnya harus di kurangi.
"Eh, sebelum kita pulang gimana kalau kita ke Pameran? Mumpung aku ada di sini kan jarang-jarang kita bisa keluar malam bareng," kata Mala memberi usul.
"Nah, kalo ini aku tambah semangat. Ya sudah ayo kita berangkat," ajakku.
Setelah sampai di Pameran kita bekeliling dan melihat-melihat suasana yang ada di sini. Kita menaiki salah satu wahana yang ada di Pameran. Tidak terlalu lama kita berada di sini karena hari juga sudah cukup malam. So, kita kembali pulang.
Sampai di rumah aku memikirkan tentang acara Festival Puisi Bangkalan 2 menurutku ini bukan Education Park tetapi banyak ilmu yang dapat aku ambil dari acara ini. Menyenangkan, sangat menyenangkan meskipun bukan di dalam kelas kita juga bisa menyimak dan mendengarkan hal-hal yang disampaikan oleh pengisi acara. Mudah-mudahan ada acar seperti ini kembali. Amin.
Komentar
Posting Komentar