Kumpulan Materi Linguistik Umum Semester 1

BAB I
FONOLOGI

PENGERTIAN
Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem) bahasa dan distribusinya. Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat ucap manusia. Bidang kajian fonologi adalah bunyi bahasa sebagai satuan kecil dari ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata.
Asal kata fonologi secara harfiah sederhana terdiri dari gabungan kata fon yang berarti bunyi, dan logi yang berati ilmu. Dalam khazanah bahasa Indonesia, istilah fonologi merupakan turunan kata dari bahasa Belanda yaitu fonologie.
Fonologi terdiri atas dua bagian, yaitu fonetik dan fonemik. Fonologi berbeda dengan fonetik. Fonetik mempelajari tentang bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa yang direalisasikan atau dihafalkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan pengucapan bahasa. Dengan kata lain, fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari tentang cara bagaimana menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa  yang diproduksi oleh alat ucap manusia atau suatu bidang kajian yang menelaah bagaimana manusia menghasilkan bunyi-bunyi bahasa dalam ujaran, menelaah gelombang-gelombang bunyi bahasa yang dikeluarkan, dan bagaimana alat pendengaran manusia menerima bunyi bahasa untuk di analisis oleh otak manusia. Secara umum fonetik dibagi menjadi tiga bidang kajian, yaitu:
Fonetik fisiologis atau fonetik artikulatoris adalah suatu bidang ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang fisiologis manusia atau mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa dan bagaimana bunyi-bunyi tersebut diklasifikasikan.
Fonetik akustis yaitu fonetisi yang berusaha menguraikan berbagai hal tentang bagaimana suatu bunyi ditanggapi dan dihasilkan oleh mekanisme pertuturan manusia.
Fonetik audiotoris atau fonetik persepsi yaitu mengarahkan kajian pada persoalan bagaimana manusia menentukan pilihan bunyi-bunyi yang diterima alat pendengarannya.
Lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini :



Sementara itu, fonemik adalah bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran yang menurut fungsinya berbeda arti. Dasar-dasar analisis fonem adalah pokok-pokok pikiran yang di pakai sebagai pegangan untuk menganalisis fonem-fonem suatu bahasa. Ada tiga unsur penting ketika organ ucap manusia memproduksi bunyi atau fonem yaitu:
Udara.
Dimana udara tersebut adalah sebagai penghantar bunyi.
Artikulator.
Artikulator merupakan bagian alat ucap yang bergerak
Titik artikulasi (di sebut juga artikulator pasif).
Titik artikulasi ini adalah bagian alat ucap yang menjadi titik sentuh artikulator.
Ada beberapa istilah lain yang berkaitan dengan fonologi, antara lain: fona, fonem, vokal, dan konsonan.
Fona adalah bunyi ujaran yang bersifat netral atau masih belum terbukti membedakan arti.
Fonem adalah satuan bunyi ujaran terkecil yang membedakan arti. Variasi fonem karena adanya pengaruh lingkungan, yang dimasuki disebut dengan alofon, gambar atau lambang fonem dinamakan huruf. Fonem dapat dibuktikan melalui pasangan minimal. Pasangan kata dalam satu bahasa yang mengandung kontras minimal disebut pasangan minimal. Contoh *pola dan pula ® yang membedakannya adalah [o] dan [u], *barang dan parang ® yang membedakan adalah [b] dan [p]. Variasi ini terdiri dari: vokal, konsonan, Diftong (fokal rangkap), dan kluster (konsonan rangkap).
Vokal adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar tanpa rintangan. Dalam bahasa, khususnya bahasa indonesia terdapat huruf vokal. Huruf fokal terdiri atas a, i, u, e, dan o. Huruf vokal sering disebut dengan huruf hidup.
Konsonan adalah fonem yang dihasilkan dengan menggerakkan udara keluar dengan rintangan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan rintangan adalah terhambatnya udara keluar oleh adanya gerakan atau perubahan artikulator. Terdapat pula huruf konsonan, yaitu huruf-huruf yang tidak bisa berdiri tunggal dan membutuhkan keberadaan huruf vokal untuk menghasilkan suatu bunyi. Huruf konsonan terdiri dari b, c, d, f, g, h, j, k, l , m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z. Huruf konsonan sering disebut sebagai huruf mati.
Diftong adalah vokal berurutan yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. Diftong dalam bahasa Indonesia adalah ai, au, dan oi. Contoh petai, lantai, pantai, santai, harimau, kerbau, pulau, amboi, dan lainnya.

KEDUDUKAN
Hasil fonologi sangatlah berguna dan bahkan sering digunakan atau dimanfaatkan oleh cabang-cabang linguistik lain, semisal:
Fonologi dalam cabang morfologi.
Suatu bidang yang konsentrasinya pada tataran struktur internal kata sering memanfaatkan hasil studi fonologi. Contoh dalam menjelaskan fonem dasar {butuh} yang diucapkan bervariasi antara [butuh] dan diucapkan [butuhkan]
Fonologi dalam cabang sintaksis.
Bidang yang berkonsentrasi pada tataran kalimat. Semisal buka pintu? (kalimat tanya), buka pintu (kalimat berita), dan buka pintu! (kalimat perintah), diantara kalimat tersebut mempunyai maksud yang berbeda.
Fonologi dalam cabang sematik.
Bidang yang berkonsentrasi pada persoalan makna kata yang memanfaatkan telaah fonologi. Contoh kata [tahu], [tau], [teras], kata tersebut akan bermakna lain, sedangkan [didik], [duduk], ketika diucapkan bervariasi tetapi tidak membedakan makna.

MANFAAT
Ejaan adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Bunyi ujar ada dua unsur, yaitu segmental dan suprasegmental, maka ejaan tersebut menggambarkan atau melambangkan kedua unsur bunyi ujar yang didalamnya.
Perlambangan unsur segmental bunyi ujar tidak hanya bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi bagaimana menuliskan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk kata, frase, klausa, dan kalimat, bangaimana mencetak suku kata, bagaimana menuliskan sebuah singkatan, nama orang, lambang-lambang teknis keilmuan, dan sebagainya.Perlambangan unsur suprasegmental yaitu bunyi ujar yang menyangkut bagaimana melambangkan tekanan, nada, durasi, jeda, dan intonasi. Istilah tanda baca atau pugtuasi disebut juga perlambangan unsur suprasegmental.
Tata cara penulisan bunyi ujar baik dari segi segmental maupun dari segi suprasegmental bisa memanfaatkan hasil kajan fonologi, terutama hasil dari kajian fonemik terhadap bahsa yang bersangkutan. Contoh pada ejaan bahasa Indonesia yang selama ini sudah di terapkan dalam penulisan yang memanfaatkan hasil studi fonologi bahasa Indonesia, terutama yang berkaitan erat dengan fonem, ejaan bahasa Indonesia juga bisa di sebut dengan ejaan fonemis.

BAB II
MORFOLOGI

PENGERTIAN
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Kata Morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani morphe yang digabungkan dengan logos. Morphe berarti bentuk dan logos berarti ilmu. Bunyi [o] yang terdapat diantara morphe dan logos ialah bunyi yang biasa muncul diantara dua kata yang digabungkan. Jadi, berdasarkan makna unsur-unsur pembentukannya itu, kata morfologi berarti ilmu tentang bentuk.
Morfologi juga mempelajari arti yang timbul sebagai akibat peristiwa gramatik, yang biasa disebut arti gramatikal atau makna. Satuan yang paling kecil dipelajari oleh morfologi adalah morfem, sedangkan yang paling besar berupa kata. morfologi hanya Mempelajari peristiwa-peristiwa yang umum, peristiwa yang berturut-turut terjadi, yang bisa dikatakan merupakan sistem dalam bahasa.
Dalam bahasa Indonesia mempunyai berbagai bentuk. Kata sedih, gembira, dan senang merupakan  satu  morfem. Kata bersedih, bergembira, dan bersenang merupakan dua morfem, yaitu morfem ber- sebagai afiks, dam morfem sedih merupakan bentuk dasarnya begitu juga dengan morfem bergembira dan bersenang terdiri dari dua morfem. Kata senang-senang terdiri dari dua morfem yaitu morfem senang sebagai bentuk dasar dan diikuti oleh senang sebagai morfem ulang. Semua yang berhubungan denngan bentuk kata tersebut yang menjadi objek dari suatu ilmu disebut dengan morfologi.
Perubahan-perubahan  bentuk kata menyebabkan adanya perubahan golongan dan arti kata. Golongan kata sedih tidak sama dengan golongan kata bersedih. Kata sedih termasuk golongan kata adjektiva, sedangkan kata bersedih termasuk verba deadjektiva. Di segi arti, kata-kata senang, bersenang, dan senang-senang semuanya mempunyai arti yang berbeda-beda. Demikian pula dengan kata sedih dan gembira.
Perbedaan atau perubahan golongan dan arti kata tersebut disebabkan oleh perubahan bentuk kata. Karena itu, selain menyelidiki bidangnya yang utama dalam seluk-beluk bentuk kata, morfologi juga menyelidiki kemungkinan adanya perubahan golongan dan arti kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk kata.

FUNGSI
Untuk mengetahui bagaimana perubahan-perubahan bentuk kata, baik dari fungsi gramatik maupun semantik
Mengetahui bagaimana seluk-beluk kata
Mengetahui bagaimana suatu arti yang timbul akibat peristiwa gramatik
Mempelajari peristiwa-peristiwa umum, peristiwa yang berturut-turut terjadi, atau dengan kata lain sebagai sistem dalam bahasa.

MANFAAT
Morfologi atau tata bentuk ada pula yang menyebutnya morphemics adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal (Verhaar, 1984 : 52). Dengan perkataan lain, morfologi mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, dan klasifikasi kata-kata. Dalam linguistik bahasa Arab, morfologi ini disebut tasrif, yaitu perubahan suatu bentuk (asal) kata menjadi bermacam-macam bentuk untuk mendapatkan makna yang berbeda (baru). Tanpa perubahan bentuk ini, maka yang berbeda tidak akan terbentuk.
Untuk memperjelas pengertian diatas, perhatikanlah contoh-contoh berikut dalam segi strukturdan unsur-unsur yang membentuknya :
 Makan
Makanan
Dimakan
Termakan
Makan-makan

Main
Mainan
Bermain
Main-main
Bermain-main Contoh-contoh yang terpampang di atas, semuanya disebut kata. Namun demikian, struktur kata-kata tersebut berbeda-beda. Kata makan terdiri atas satu bentuk bermakna. Kata makanan, dimakan, dan termakan masing-masing terdiri atas dua bentuk bermakna yaitu –an, di-, ter-dengan makan. Kata makan-makan terdiri atas dua bentuk bermakna makan dan makan. Rumah makan pun terdiri atas dua bentuk bermakan rumah dan makan. Kata main, sama dengan kata makan terdiri atas satu bentuk bermakna, sedangkan kata mainan, bermain, main-mainan, permainan, memainkan masing-masing terdiri atas dua buah bentuk bermakna yakni –an, ber-, main, per-an, me-kan dengan main. Kata bermain-main terdiri atas tiga bentuk bermakna ber-, main, dan main.
Berdasarkan contoh di atas, kita dapat mengetahui bahwa bentuk-bentuk tersebut dapat berubah karena terjadi suatu proses. Kata makan dapat berubah menjadi makanan, dimakan, termakan karena masing-masing adanya penambahan –an, di-, dan ter-, dapat pula menjadi makan-makan karena adanya pengulangan, dapat pula menjadi rumah makan karena penggabungan dengan rumah. Perubahan bentuk atau struktur kata tersebut dapat pula diikuti oleh perubahan jenis atau makna kata. Kata makan termasuk jenis atau golongan kata kerja sedangkan makanan termasuk jenis atau golongan kata benda. Dari segi makna kata makan maknanya ‘memasukan sesuatu melalui mulut’, sedangkan makanan maknanya ‘semua benda yang dapat dimakan’.

PENGERTIAN MORF, MORFEM DAN ALOMORF
Morfem adalah bentuk yang paling kecil yang tidak mempunyai bentuk lain sebagai unsurnya. Banyak morfem yang hanya mempunyai satu struktur yakni jumlah maupun urutan fonemnya selalu tetap. Di lain pihak, banyak morfem yang mempunyai beberapa struktur fonologis, misalnya morfem peN- mempunyai struktur-struktur fonologis pe-, pem-, pen-, peng-, peny-, dan penge-, seperti terlihat pada kata-kata: pelari, pembimbing, pendengar, penguji, penyakit, dan pengecat. Satuan-satuan pe-, pem-, peng-, peny-, dan penge- masing-masing disebut morf yang semuanya alomorf dari morfem peN- (Ramlan, 1983 : 27). Jadi dapatlah dikatakan bahwa morfem peN- mempunyai morf-morf pe-, pem-, pen-, peng-, peny-, dan penge- sebagai alomorfnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa alomorf itu merupakan variasi bentuk suatu morfem. Jadi yang dimaksud dengan Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya, sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

MORFEM DAN KATA
Kata disusun oleh satu atau beberapa morfem. Kata bermorfem satu disebut kata monomorfemis, sedangkan kata bermorfem lebih dari satu disebut kata polimorfemis. Penggolongan kata menjadi jenis monomorfemis dan polimorfemis adalah penggolongan berdasarkan jumlah morfem yang menyusun kata.
Kata polimorfemis dapat dilihat sebagai hasil proses morfologis yang berupa perangkaian morfem. Kata seperti amin, sedang, soal dan itu dapat dianggap tidak mengalami proses morfologis, sedangkan kata seperti mempelajari dan persoalan merupakan kata hasil suatu proses morfologis.
Berikut ini beberapa contoh morfem dasar yang terikat : aju, cantum, elak, genang, giru, huni, imbang, jelma, jenak, kitar, lancing, paut.
Morfem dengan Kata
Perhatikanlah satuan-satuan gramatik berikut ini !
tanda
menandai
tanda tangan
dari Bandung
Satuan tanda merupakan sebuah bentuk bebas karena tidak dapat dibagi menjadi satuan-satuan bebas lainnya. Satuan menandai tidak dapat dibagi menjadi bentuk bebas. Tetapi perhatikan bentuk atau satuan tanda tangan dapat dibagi menjadi dua satuan yakni tanda dan tangan. Namun kalau diteliti lebih jauh, sebenarnya satuan tanda tangan memiliki satu kesatuan yang utuh atau padu. Dengan perkataan lain, tanda tangan memiliki sifat sebuah kata yang membedakan dirinya dari frase (Ramlan, 1983 : 28; Prawirasumantri, 1985 : 129). Bentuk-bentuk atau satuan-satuan yang setipe itu tidak mungkin dipisahkan atau dibalikkan menjadi tangan tanda atau dipisahkan satuan lain tanda itu tangan. Bentuk atau satuan sepeti itu dalam hubungannya keluar selalu merupakan satu kesatuan dari. Satuan itu bukan merupakan bentuk bebas seperti contoh lainnya di, ke, daripada- tetapi secara gramatis memiliki sifat bebas. Satuan-satuan seperti contoh di atas dari nomor 1 sampai dengan 4 di sebut kata.
Berdasarkan penjelasan di atas, nyatalah bahwa kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih. Kata-kata seperti: duduk, makan, tidur, meja masing-masing terdiri atas sebuah morfem, sedangkan penduduk, makanan, meja makan, kaki tangan masing-masing terdiri atas dua buah morfem. Kata-kata yang terdiri atas satu morfem disebut kata bermorfem tunggal atau kata monomorfemis (monomorphemic word) dan kata-kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih disebut kata bermorfem jamak atau kata polimorfemis (polymorphemic word) (Verhaar, 1984 : 54).
Dari paparan di atas dapatlah ditarik suatu ciri kata. Ciri kata pada dasarnya mencakup dua hal yaitu: (1) kata merupakan suatu kesatuan penuh dan komplit dalam sebuah ujaran bahasa, dan (2) kata dapat ditersendirikan yakni bahwa sebuah kata dalam kalimat dapat dipisahkan dari yang lain dan dapat dipindahkan.
BAB III
SINTAKSIS

PENGERTIAN SINTAKSIS
Sintaksis membicarakan berbagai seluk-beluk frase dan kalimat Sintaksis merupakan bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk kalimat, klausa, dan frasa.Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang bearti dengan dan kata tattein yang bearti menempatkan jadi secara etimologi berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.Banyak ahli telah mengemukakan penjelasan ataupun batasan sintaksis.Dikatakan bahwa sintaksis adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabung-gabungkan kata menjadi kalimat.Sintaksis juga merupakan analisis mengenai konstruksi-konstruksi yang hanya mengikutsertakan bentuk-bentuk bebas.
Istilah sintaksis (Belanda, Syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frase Dari beberapa pernyataan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa sintaksis merupakan bagian dari ilmu bahasa yang didalamnya mengkaji tentang kata,frasa,klausa,kalimat,wacana.
KATA
Dalam tataran morfologi kata merupakan satuan terbesar , tetapi dalam tataran sintaksis,kata merupakan satuan sintaksis yang lebih besar yaitu
frasa.tataran bahasa menurut ABDUL CHAER dalam buku “Tata bahasa praktis bahasa indonesia” .
 Kata benda
Kata ganti
Kata kerja
Kata sifat
Kata sapaan
Kata petunjuk
Kata bilangan
Kata penyangkal
Kata depan
Kata penghubung
Kata keterangan
kata tanya
Kata seru
Kata saandang
Kata partikel.

 FRASA
Frasa adalah suatu kelompok kata yang terdiri atas dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan yang tidak melampui batas subjek dan batas predikat.Frase terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan dan dalam pembentukan ini tidak terdapat ciri-ciri klausa dan juga tidak melampui batas subjek dan batas predikat.Frase adalah suatu komponen yang berstruktur, yang dapat membentuk klausa dan kalimat.
Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif atau satu konstruksi ketatabahasaan yang berdiri atas dua kata atau lebih. Frase terbentuk dari rangkaian kelas kata yang satu dengan yang lain, baik pada posisi pertama maupun ke dua. Rangkaian kelas kata yang membentuk frase itu mempunyai hubungan atributif, predikatif, dan posesif.
Dari beberapa pernyataan yang telah dikemukakan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa frasa merupakan gabungan atau rangkaian kata yang tidak mempunyai batas subjek dan predikat, yang biasanya rangkaian kata tersebut mempunyai satu makna yang tidak bisa dipisahkan.
KLAUSA
Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat.Klausa berpotensi menjadi kalimat.Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya.Pada umumnya klausa, baik tunggal maupun jamak, berpotensi menjadi kalimat.Kalimat inti terdiri atas klausa tunggal, sedangkan kalimat majemuk terdiri atas lebih dari satu klausa.  Oleh karena itu, kalimat majemuk terdiri atas klausa-klausa yang saling berhubungan.
Klausa ialah unsur kalimat, karena sebagian besar kalimat terdiri dari dua unsur klausa. Unsur inti klausa adalah S dan P. Namun demikian, S juga sering juga dibuangkan, misalnya dalam kalimat luas sebagai akibat dari penggabungan klausa, dan kalimat jawaban.
Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat, dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek, dan sebagai keterangan.fungsi yang bersifat wajib pada konstruksi ini adalah subjek dan predikat sedangkan yang lain tidak wajib.
Sehigga dapat ditarik kesimpulan bahwa klausa merupakan unsur kalimat yang mewajibkan adanya dua fungsi sintaksis, yakni subjek dan predikat sedang yang lainnya tidak wajib. Penanda klausa adalah P, tetapi dalam realisasinya P itu bisa juga tidak muncul misalnya dalam kalimat jawaban atau dalam bahasa Indonesia lisan tidak resmi. Klausa juga berpotensi menjadi kalimat tunggal karena didalamnya terdapat unsur sintaksis yakni subjek dan predikat.
KALIMAT
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh.Kalimat adalah tuturan yang mempunyai arti penuh dan turunnya suara menjadi ciri sebagai batas keseluruhannya. Jadi, kalimat adalah tuturan yang diakhiri dengan intonasi final .Kalimat adalah suatu bentuk linguistik yang terdiri atas komponen kata-kata, frase, atau klausa.
Jika dilihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal serta kalimat majemuk.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final, dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.
WACANA
Wacana adalah satuan terlengkap dalam hierarki gramatikal,merupakan satuan gramatikal atau satuan bahasa tertinggi dan terbesar.wacana menunjukkan pada hubungan konteks sosial dalam pemakaian bahasa. Jenis-jenis wacana ditinjau dari tujuan berkomunikasi :
 Wacana argumentasi
Wacana eksposisi
Wacana persuasi

Wacana deskripsi
Wacana narasi


FUNGSI KAJIAN SINTAKSIS
Fungsi kajian sintaksis terdiri dari beberapa komponen.Diantaranya adalah subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan.Memperjelas tentang hakikat dari subjek dan predikat, objek dan pelengkap, serta keterangan. Semuanya akan dijelaskan sebagai berikut.
Subjek dan Predikat
Subjek merupakan bagian yang diterangkan predikat. Subjek dapat dicari dengan pertanyaan ‘Apa atau Siapa yang tersebut dalam predikat’. Sedangkan predikat adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek. Predikat dapat ditentukan dengan pertanyaan ‘yang tersebut dalam subjek sedang apa, berapa, di mana, dan lain-lain’.
Subjek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina. Sedangkan predikat bisa berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, atau pun preposisi.
Jika diubah menjadi kalimat tanya, subjek tidak dapat diberi partikel -kah. Predikat dapat diberi partikel kah.
Contoh dari kalimat yang memiliki subjek dan predikat adalah, ‘Adik sedang makan’. ‘Adik’ menduduki fungsi subjek, sedangkan ’sedang makan’ menduduki fungsi predikat.
‘Adiksedang makan.’
    S      P
Objek dan Pelengkap
Objek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina, sedangkan pelengkap berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, preposisi, dan pengganti nomina.
Objek mengikuti predikat yang berupa verba transitif (memerlukan objek) atau semi transitif dan
pelengkap mengikuti predikat yang berupa verba intransitif (tidak memerlukan objek).
Objek dapat diubah menjadi subjek dan pelengkap tidak dapat diubah menjadi subjek.

Keterangan.
Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek, predikat, objek atau pelengkap.
Berupa frasa nomina, preposisi, dan konjungsi.
Mudah dipindah-pindah, kecuali diletakkan diantara predikat dan objek atau predikat dan
Pelengkap
Contoh kalimat yang memiliki keterangan adalah ‘Kemarin, Pak Anwar membeli buah-buahan di pasar induk’.‘Kemarin’ dan ‘di pasar induk’ merupakan keterangan, untuk ‘Pak Anwar’ menduduki fungsi subjek.Kata ‘membeli’ merupakan predikat dan ‘buah-buahan’ adalah fungsi objek.
‘Kemarin, Pak Anwar membeli buah-buahan di pasar induk’.
    Ket  S        P  O Ket

ASPEK-ASPEK SINTAKSIS
Aspek-aspek yang dikaji dalam sintaksis meliputi frasa, klausa, dan kalimat.Dibawah ini merupakan uraian dari ketiga aspek tersebut.
FRASA
Frasa dapat dihasilkan dari perluasan sebuah kata. Sebuah frasa dengan perluasannya tidak menimbulkan jabatan atau fungsi lain sehingga tidak melebihi batas fungsi semula. Jika perluasan itu ternyata menimbulkan jabatan fungsi baru atau membentuk pola subjek-predikat, perluasan itu sudah menjadi klausa.
Contoh: karya sastra (frasa)
Diperluas : karya sastra indah itu (frasa)
karya sastra itu indah (klausa)
       S                   P
Frasa dapat dibagi atas empat jenis, sebagai berikut.
FRASA EKSOSENTRIS
Frasa Eksosentris, adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. Atau dapat diartikan frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai UP.
Contoh : Sejumlah orang di gardu.
Frase Eksosentris dibagi menjadi dua, yakni:
Frase Eksosentrik yang Direktif
Komponen pertamanya berupa preposisi, seperti “di, ke dan dari” dan komponen berupa kata/kelompok kata yang biasanya berkategori nomina.
Contoh: di rumah
  dari pohon mahoni
  demi kesejahteraan
Frase Eksosentrik yang Nondirektif
Komponen pertamanya berupa artikulus, seperti “si” dan “sang” atau”yang”, “para” dan “kaum”, sedangkan komponen keduanya berupa kata berkategori nomina, adjektiva atau verba.
Contoh: si kaya, para remaja kampung
Diana Nababan (2008: 84)  dalam bukunya Intisari Bahasa Indonesia, mengatakan bahwa jenis frasa Ekosentris dapat dibedakan menjadi :
Frasa ferbal adalah frasa yang intinya berupa kata kerja.
Contoh : Menangis keras
Sedang melamun
Frasa adjektiva adalah frasa yang intinya berupa kata sifat.
Contoh : Kasar sekali
Amat lembut
Sangat merdu
Frasa nominal adalah frasa yang intinya berupa kata benda.
Contoh: Lapangan besar
  Rumah besar
Sang pemimpin
Frasa pronominal adalah frasa yang intinya berupa kata ganti.
Contoh : Kalian semua
   Kamu dan dia
Frasa adverbial adalah frasa yang intinya berupa kata keterangan.
Contoh : Lebih kurang
Frasa numerial adalah frasa yang intinya berupa kata bilangan.
Contoh : Tujuh dan delapan
Empat belas
Frasa interogativa adalah frasa yang intinya berupa kata tanya.
Contoh : Apa dan siapa

FRASA ENDOSENTRIS
Frasa endosentris adalah frasa yang unsur-unsur pembentuknya dapat menggantikan kedudukan frasa itu secara keseluruhan.
Contoh : Mereka menempati rumah baru.
 Frasa rumah baru mempunyai inti. Mencari inti frasa dapat diuji  dengan membuat kalimat berterima dan tidak berterima:
Mereka menempeti rumah
Mereke menempeti baru
Kalimat a mempunyai makna, berarti rumah menjadi inti frasa.Kalimat b tidak berterima dan tidak mempunyai makna, berarti baru bukanlah inti frasa.
Jenis frasa endosentris:
Frasa Endosentris Koordinatif
Masing-masing unsur memiliki kedudukan sederajat yang tidak saling menerangkan unsur yang lain. Sifat kesetaraan itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan menyisipkan kata penghubung dan atau.
Contoh : Anak itu sudah tidak mempunyai ibu bapak. (ibu dan bapak)


Frasa Endosentris Apositif
Frasa yang berhubungan antara unsur-unsurnya dapat saling menggantikan.
Contoh : Aminah, Anak Pak Lurah sangat cantik.
Frasa anak Pak Lurah adalah unsur keterangan tambahan untuk menerangkan aminah.
Frasa Endosentris Atributif
Frasa yang salah satu unsurnya dapat menggantikan frasa itu secara keseluruhan.Frasa ini memiliki unsur pusat dan unsur atribut. Inti frasa ditandai dengan D (diterangkan) dan unsur atribut ditandai dengan M (menerangkan).
Contoh: Rumahnya sangat besar
                                        M     D
Kata sangat adalah atribut atau penjelas untuk kata besar.
Contoh :Anak nakal sangat marah
   M     D          M         D

FRASA AMBIGU
Frasa ambigu adalah frasa yang menimbulkan makna ganda atau tidak jelas.
 Contoh : Lukisan Ayah dipajang di ruang tamu.
Frasa lukisan ayah mempunyai makna:
Lukisan milik Ayah
Lukisan mengenai diri Ayah
Lukisan buatan Ayah
FRASA IDIOMATIC
Frasa idiomatic adalah frasa yang mempunyai makna sampingan atau bukan makna sebenarnya.
Contoh : orang tua itu sudah banyak makan garam kehidupan.



KLAUSA
Klausa merupakan bagian dari kalimat.Klausa memiliki unsur subjek dan predikat, tetapi tidak mengandung intonasi, jeda, tempo, dan nada.
Klasifikasi Klausa
Ada lima dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan klausa. Ketiga dasar itu adalah:
Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya.
Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang menegatifkan P.
Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P.
Klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat.
Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat.
Berikut hasil klasifikasinya:
Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya.
Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya mengacu pada hadir tidaknya unsur inti klausa, yaitu S dan P. Dengan demikian, unsur ini klausa yang bisa tidak hadir adalah S, sedangkan P sebagai unsur inti klausa selalu hadir.
Atas dasar itu, maka hasil klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya, berikut klasifikasinya:
Klausa Lengkap
Klausa lengkap ialah klausa yang semua unsur intinya hadir. Klausa ini diklasifikasikan lagi berdasarkan urutan S dan P menjadi :
Klausa versi, yaitu klausa yang S-nya mendahului P. Contoh : Kondisinya masih kritis.
   Gedung itu sangat tinggi.
   Sekolah itu masih rusak.
Klausa inversi, yaitu klausa yang P-nya mendahului S.
Contoh : Masih kritis kondisinya.
   Sangat tinggi gedung itu.
   Masih rusak sekolah itu.
Klausa Tidak Lengkap
Klausa tidak lengkap yaitu klausa yang tidak semua unsur intinya hadir.Biasanya dalam klausa ini yang hadir hanya S saja atau P saja. Sedangkan unsur inti yang lain dihilangkan.
Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P.
Unsur negasi yang dimaksud adalah tidak, tak, bukan, belum, dan jangan. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P menghasilkan :
Klausa Positif
Klausa poisitif ialah klausa yang ditandai tidak adanya unsur negasi yang menegatifkan P.
Contoh : Bambang seorang pesepak bola tersohor.
Anak itu mengerjakan PR.
Mereka pergi ke toko.
Klausa Negatif
Klausa negatif ialah klausa yang ditandai adanya unsur negasi yang menegaskan P.
Contoh : Bambang bukan seorang pesepak bola tersohor.
Anak itu belum mengerjakan PR.
Mereka tidak pergi ke toko.
Kata negasi yang terletak di depan P secara gramatik menegatifkan P, tetapi secara sematik belum tentu menegatifkan P. Dalam klausa Dia tidak tidur, misalnya, memang secara gramatik dan secara semantik menegatifkan P. Tetapi, dalam klausa Dia tidak mengambil pisau, kata negasi itu secara semantik bisa menegatifkan P dan bisa menegatifkan O. Kalau yang dimaksudkan ‘Dia tidak mengambil sesuatu apapun’, maka kata negasi itu menegatifkan O. Misalnya dalam klausa Dia tidak mengambil pisau, melainkan sendok.

Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P.
Berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P, klausa dapat diklasifikasikan menjadi :
Klausa Nomina
Klausa nomina ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa nomina.
Contoh: Pamannya petani di kampung itu.
      Bapak itu dosen linguistik.
Klausa Verba
Klausa verba ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa verba.
Contoh : Dia membantu para korban banjir.
         Pemuda itu menolong nenek tua.
Klausa verba dibagi menjadi beberapa tipe, yakni:
Klausa Transitif
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba transitif.
Contoh: Adik menulis surat.
Klausa
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba intransitif. Contoh: Adik menyanyi kakak sedang berdandan.
3    Klausa Refleksif
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba refleksif.
Contoh: Kakak sedang berdandan.
4   Klausa Resiprokal
Adalah klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal. Contoh: Orang itu bertengkar sejak tadi.
Klausa Adjektiva
Klausa adjektiva ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa adjektiva.
Contoh : Paman sangat kurus.
          Rumah itu sudah tua.
Ibu guru sangat baik.
Klausa Numeralia
Klausa numeralia ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori numeralia.
Contoh : Anaknya empat orang.
   Mahasiswanya sembilan orang.
   Temannya dua puluh orang.
Klausa Preposisiona
Klausa preposisiona ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa preposisiona.
Contoh : Kertas itu di bawah meja.
   Baju saya di dalam lemari.
  Orang tuanya di Surabaya.
Klausa Pronomia
Klausa pronomial ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategoi ponomial.
Contoh : Hakim memutuskan bahwa dialah yang bersalah.
Sudah diputuskan bahwa ketuanya kamu dan wakilnya saya.
4. Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat
Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat dapat dibedakan atas :
Klausa Bebas
Klausa bebas ialah klausa yang memiliki subjek dan predikat, sehingga berpotensi untuk menjadi kalimat mayor.Jadi, klausa bebas memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai predikat dalam klausa tersebut.Klausa bebas adalah sebuah kalimat yang merupakan bagian dari kalimat yang lebih besar. Dengan perkataan lain, klausa bebas dapat dilepaskan dari rangkaian yang lebih besar itu, sehingga kembali kepada wujudnya semula, yaitu kalimat.
Contoh : Anak itu badannya panas, tetapi kakinya sangat dingin.
 Dosen kita itu rumahnya di jalan Ambarawa.
 Semua orang mengatakan bahwa dialah yang bersalah.
Klausa terikat
Klausa terikat ialah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor, hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor karena strukturnya tidak lengkap.Kalimat minor adalah konsep yang merangkum: pangilan, salam, judul, motto, pepatah, dan kalimat telegram.
Contoh : Semua murid sudah pulang kecuali yang dihukum.
    Semua tersangkan diinterograsi, kecuali dia.
Ariel tidak menerima nasihat dari siapa pun selain dari orang tuanya.
5.  Klasifikasi kLausa berdasarkan kriteria tatarannya dalam kalimat.
Berdasarkan tatarannya dalam kalimat, klausa dapat dibedakan antara klausa atasan dan    klausa bawahan
Klausa Atasan
Klausa atasan adalah klausa yang dapat berdiri sendiri sebagai kalimat.
Contoh :Irwan datang ketika kami sedang menonton film.
               Klausa Atasan
Klausa Bawahan
Klausa bawahan ialah klausa yang belum lengkap isinya.Klausa ini tidak dapat berdiri sendiri.
Contoh :Irwan datang ketika kami sedang menonton film.
Klausa Bawahan

Analisis Klausa
Klasifikasi klausa dapat dianalisis berdasarkan tiga dasar, yaitu berdasarkan fungsi unsur-usurnya, berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsurnya, dan berdasarkan makna unsur-unsurnya.
Analisis Klausa Berdasarkan Fungsi Unsur-Unsurnya
Klausa terdiri dari unsur-unsur fungsional yang di sini disebut S, P, O, pel, dan ket.Kelima unsur itu tidak selalu bersama-sama ada dalam satu klausa. Kadang-kadang satu klausa hanya terdiri dari S dan P kadang terdiri dari S, P dan O, kadang-kadang terdii dari S, P, pel dan ket. Kadang-kadang terdiri dari P saja.Unsur fungsional yang cenderung selalu ada dalam klausa ialah P.
S dan P
Contoh : Budi tidak berlari-lari  ≈ Tidak berlari-lari Budi
S P                               P                 S
  Badannya sangat lemah ≈ Sangat lemah badannya
S P P S
O dan Pelengkap
P mungkin terdiri dari golongan kata verbal transitif, mungkin terdiri dai golongan kata verbal intransitif, dan mungkin pula terdirri ari golongan-golongan lain. Apabila terdiri dari golongan kata verbal transitif, diperlukan adanya O yang mengikuti P itu.
Contoh :
Kepala Sekolah akan menyelenggarakan pentas seni.
                            S                      P                              O
Pentas seni akan diselenggarakan kepala sekolah
S P         O
Keterangan
Unsur klausa yang tidak menduduki fungsi S, P, O dan Pel dapat diperkirakan menduduki fungsi Ket. Berbeda dengan O dan Pel yang selalu terletak di belakang dapat, dalam suatu klausa Ket pada umumnya letak yang bebas, artinya dapat terletak di depan S, P dapat terletak diantara S dan P, dan dapat terletak di belakang sekali. Hanya sudah tentu tidak mungkin terletak di antara P dan O, P dan Pel, karena O dan Pel boleh dikatakan selalu menduduki tempat langsung dibelakang P.
Contoh : Akibat banjir desa-desa itu hancur
Ket S               P
Desa-desa itu hancur akibat banjir
S P O
2. Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Kata atau Frase yang menjadi Unsurnya.
Analisis kalusa berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsur-unsur klausa ini itu disebut analisis kategorional.Analisis ini tidak terlepas dari analisis fungsional, bahkan merupakan lanjutan dari analisis fungsional.
Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Makna dan Unsur-Unsurnya
Dalam analisis fungsional klausa dianalisis berdasarkan fungsi unsur-unsurnya menjadi S, P, O, Pel dan Ket dalam analisis kategorial telah dijelaskan bahwa fungsi S terdiri dari N, fungsi P terdiri dari N, V, Bil, FD, fungsi O terdiri dari N, fungsi Pel terdiri dari N, V, Bil dan fungsi ket terdiri dari Ket, FD, N.

KALIMAT
Kalimat adalah satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).
RAGAM KALIMAT
Berdasarkan jenisnya, kalimat dapat dibagi menjadi beberapa jenis:
 Kalimat Tunggal
adalah kalimat yangt mempunyai satu subjek dan satu predikat serta mengandung satu maksud.
Contoh :
Koko pergi ke pasar
  S        P         Ket
Toni menanam biji jarak di kebun
 S        P              O           Ket
Berdasarkan predikatnya, kalimat tunggal terbagi atas:
Kalimat nominal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata benda.
Contoh: Ayahnya seorang pelukis.
Kalimat verbal adalah kalimat yang  predikatnya berupa kata kerja.
Contoh : Ani suka makan bakso.
Rino belajar aritmetiak.
Kalimat adjectival adalah kalimat yang predikatnya berupa adjektiva atau kata sifat.
Contoh : Soal ini sulit sekali.
Tekatnya sangat kukuh.
Kalimat Majemuk
adalah kalimat yag terdiri atas dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk tersusun dari beberapa kalimat tunggal. Kalimat majemuk dapat dibedakan atas:
Kalimat majemuk setara/koordinatif.
Kalimat majemuk setara adalahkalimat yang pola-pola kalimatnya memiliki kedudukan yang sederajat. Berdasarkan kata penghubungnya, kalimat majemuk setara terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu:
Kalimat majemuk penjumlahan, ditandai oleh kata hubung dan, lalu, kemudian, dan sebagainya.
Contoh:
Pak Heru membacakan soal dan siswa mendengarkan dengan saksama.

Kalimat majemuk pemilihan, ditandai oleh kata hubungatau.
Contoh : Kamu maupesan soto ayam atau soto sapi.
Kalimat majemuk pertentangan, ditandai oleh kata hubung tetapi dan melainkan.
Contoh :Ayah sering menasihatinya, tetapi dia tetap tidak mau berubah.
Kalimat Majemuk Bertingkat/ Subkoordinatif.
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih yang tidak sederajat. Salah satu pola menduduki fungsi utama kalimat, yang lazimnya disebut dengan induk kalimat, sedangkan pola yang lain yang lebih rendah kedudukannya disebut anak kalimat.
Fungsi itu sekaligus menunjukan relasi antara induk kalimat dan anak kalimat. Kalimat majemuk bertingkat terbagi menjadi:
Kalimat majemuk hubungan waktu, ditandai oleh kata hubung setelah, sewaktu, sejak, mankala,  ketika, dan sebagainya.
Contoh :Ia menjadi sebatang kara` sejak ayah dan ibunya meninggal.
Kalimat majemuk hubungan syarat, ditandai oleh konjungsi jika, seandainya, andaikan, asalkan, apabila.
Contoh :Kamu boleh membeli sepeda asalkan nilai rapormu bagus.  
Kalimat majemuk hubungan tujuan ditandai oleh konjungsi agar, supaya, dan biar.
Contoh :Minumlah obat itu agar kamu cepat sembuh.
Kalimat majemuk hubungan konsesif, ditandai oleh konjungsi walaupun, meskipun, sekalipun, biarpun, kendatipun  dan sungguhpun.
Contoh: Dia tetap teguh pada pendiriannya walaupun setiap orang menantangnya.
Kalimat majemuk hubungan perbandingan, ditandai oleh kata penghubung daripada, ibarat, seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana.
Contoh: Daripada kamu duduk-duduk saja, lebih baik kamu bantu ibumu merapikan taman.
Kalimat majemuk hubungan penyebaban, ditandai oleh kata penghubung sebab, karena, oleh karena.
Contoh :Saya tidak jadi berangkat ke Medan karena ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan di sini.
Kata majemuk hubungan akibat, ditandai oleh kata penghubung sehingga, sampai-sampai, maka.
Contoh :kamu terlalu asyik menonton film sehingga lupa sholat.
 Kata majemuk hubungan cara, ditandai oleh kata penghubung dengan.
Contoh: Gelandangan itu tidur di emperan toko dengan beralaskan koran.
Kata majemuk hubungan sangkalan, ditandai oleh konjungsi seolah-olah, seakan-akan.
Contoh: Dia diam saja seakan-akan dia tidak mengetahui persoalan yang terjadi.
Kalimat majemuk hubungan kenyataan, ditandai oleh konjungsi padahal, sedangkan.
Contoh: Pura-pura tidak tahu padahal dia tahu banyak.
Kalimat majemuk hasil, ditandai oleh konjungsi makanya.
Contoh :Kamu susah sekali makan, makanya lambungmu sering sakit.
Kalimat majemuk hubungan penjelasan, ditandai oleh kata penghubung bahwa, yaitu.
Contoh :Kamu harus tahu bahwa kamu adalah putera Pak Sanjaya.
Kalimat majemuk hubungan atributif, ditandai oleh konjungsi yang.
Contoh : Pemuda yang berdiri di dekat pohon itu, kekasih Andria.
Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran adalah gabungan antara kalimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat.
Contoh :
Artis cantik itu hanya bisa diam lalu pergi begitu saja ketika beberapa wartawan menanyainya.
Kalimat Langsung
Kalimat langsung adalah kalimat yang menirukan ujaran orang lain.
Contoh :Ibu berkata “Saya tidak senang melihat rambut gondrong”.
Kalimat Tidak Langsung
Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang menyampaikan kembali ujaran orang lain.
Contoh: Ibu mengatakan bahwa Ia tidak senang melihat rambut gondrong.
Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya menjadi pelaku. Ciri utama kalimat aktif adalah predikatnya berupa kata dasar atau berimbuhan me(N)- dan ber-.
Contoh : Ibu sedang membuat martabak telur.
Andika senang makan kerang.
Medi tinggal di jalan Solontongan.
Berdasarkan hubungan antara predikat dan objeknya, kalimat aktif terbagi menjadi:
Kalimat aktif transitif, adalah kalimat aktif yang predikatnya mutlak membutuhakan objek.
Contoh :Andre memperkenalkanHendra kepada teman-temannya.
P                    O         .    
Kalimat aktif semitransitif, adalah kalimat aktif yang predikatnya memerlukan pelengkap.
Contoh: Negara Indonesia berlandaskan hukum.
  P Pel
Kalimat aktif dwitransitif, adalah kalimat aktif yang predikatnya membutuhkan objek dan pelengkap.
Contoh :Petugas itu memperbolehkan saya merokok di ruangan ini
                                           P                    O          Pel

Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan.
Ciri-ciri kalimat pasif adalah sebagai berikut:
 Predikatnya berisi kata kerja berawalan di-, ter-, dan kofiks ke-an.
Contoh :Ina kehujanan tadi malam.
Bentuk diri atau persona ku-, kau-.
Contoh :Coba kau lihat bunga ini.
Kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat pasif. Caranya adalah sebagai berikut:
Tukarkan pengisi subjek (S), dengan pengisi objek (O).
Ganti awalan me- dengan di- pada predikat.
Tambahkan kata oleh di belakang predikat (manasuka).
Contoh:
Pemerintah mencanangkan Progam Indonesia Sehat 2010. (Aktif)
S P                   O
Progam Indonesia Sehat 2010 dicanangkan (oleh) pemerintah. (Pasif)
O           P S
      Jika subjek pada kalimat aktif berupa kata ganti aku, saya, kami, kita, engkau, kamu, anda, dia, beliau, atau mereka. Berlaku kaidah berikut:
A. Ubah pola SPO menjadi OSP.
B. Hapus awalan meN- dari P
C. Rapatkan S dan P tanpa kata pemisah apapun. Jika semula mula predikatnya mengandung kata bantu seperti akan, dapat, atau kata ingkar tidak, letakan kata-kata tersebut sebelum S.
D. Gantikan aku dengan ku- dan engkau dengan kau (manasuka).
Contoh:Mereka sedang menyelesaikan tugas yang sangat mulia (Aktif)
      S P O
Tugas yang sangat mulia sedang mereka selesaikan. (Pasif)
Kalimat Mayor
Kalimat mayor adalah kalimat sekurang-kurangnya mejangandung dua unsur pusat, dapat berupa S-P, S-P-O atau S-P-O-K.
Contoh : Saya mengantuk.
Presiden berkunjung ke Australia.
Saya meminjam novel dari perpustakaan.
Kalimat Minor
Kalimat Minor adalah kalimat yang mengandung satu unsure pusat.Unsur  pusat tersebut biasanya berupa predikat.
Contoh : Pergi!
   Tidur!
   Minggu depan.
Berdasarkan fungsi dan tujuannya, ragam kalimat dibedakan atas:
Kalimat Berita
Kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitahukan suatu kejadian atau suatu keadaan.Dalam bentuk tulisan kalimat berita diakhiri dengan tanda titik (.), sedangkan dalam bentuk lisan, nadanya naik di akhir kalimat.
Contoh: Harga BBM akandinaikkan mulai bulan Mei 2008.
Kalimat Perintah
Kalimat perintah adalah kalimat yang berisikan perintah atau seruan untuk melakukan sesuatu.Kalimat berita dalam bentuk tulisan diakhiri tanda seru (!) atau titik (.).
Ciri-ciri kalimat perintah:
Predikatnya menggunakan partikel –lah.
Dapat menggunakan kata tolong, coba, atau silakan untuk memperhalus kalimat.
Kalimat perintah larangan sering didahului oleh kata jangan.
Contoh : Jangan bermain di sini!
   Tulislaah namamu di kertas ini!
   Tolong ambilkan kertas itu!
Kalimat Tanya
Kalimat Tanya adalah kalimat yang berisikan pertanyaan seseorang kepada orang lain.
Cara membuat kalimat tanya:
Membalikkan urutan kata lalu ditambah partikel –kah.
Contoh : Kakak membeli mobil baru.
Menjadi : Membeli mobil barukah kakak?
Menggunakan kata tanyaapa, siapa, beberapa, kapan, mengapa, bagaimana, di mana, dan sebagainya.
Contoh :Kapan kamu datang?
Bagaimana cara menanam jagung?
Menambahkan partikel –kah pada kata tanya.
Contoh : Dimanakah dia berada?
   Siapakan pemenang pertandingan sepak bola kemarin?
Menggunakan kata bukan atau tidak.
Contoh : Sepatu ini milikmu, bukan?
Kamu ini serius tidak?


Mengubah intonasi kalimat.
Contoh : Rino sedang tidur.
Menjadi : Rino sedang tidur?
Kalimat Seru
Kalimat seru adalah kalimat yang mengungkapkan perasaan.
Contoh : Wah, luar biasa pertandingan itu.
Kalimat Empatik
Kalimat empatik adalah kalimat yang memberikan penegasan khusus kepada subjek.
Contoh : Kami lah yang terlambat datang.

WACANA
Wacana adalah satuan bahasa terlengkap dalam hierarki gramatikal, merupakan satuan gramatikal atau satuan bahasa tertinggi dan terbesar. Jenis-jenis wacana ditinjau dari tujuan berkomunikasi :
Wacana argumentasi
Karangan argumentasi merupakan salah satu bentuk wacana yang berusaha pengaruhi pembaca atau pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan,baik yang didasarkan pada pertimbangan logis dan emosional
Wacana eksposisi
Karangan atau waccana eksposisi yang bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima (pembaca) agar yang bersangkutan memahaminya.Eksposisi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menguraikan suatu objek sehingga memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca.
Wacana persuasi
Wacana persuasi adalah wacana yang bertujuan mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan perbuatan sesuai yang diharapkan penuturnya.untuk mempengaruhi pembacanya ,biasanya digunakan segala daya dan upaya yang membuat mitra tutur terpengaruh. Untuk mencapai tujuan tersebut ,wacana persuasi kadang menggunakan alasan yang tidak rasiona.persuasi sesungguhnya merupakan pernyimpangan dari argumentasi,dan khusus berusaha mempengaruhi orang lain atau para pembaca. persuasi lebih mengutamakan untuk menggunakan atau memanfaatkan aspek – aspek psikologis untuk mempengaruhi orang lain.Jenis wacana persuasi yang paling sering ditemui adalah kampanye dan iklan
Contoh wacana iklan sebagai berikut.
“Pakai daia,lupakan yang lain.Dengan harga yang semurah ini,membersihkan tumpukan pakaian kotor anda,menjadi bersih cemerlang”.
Wacana deskripsi
Wacana deskripsi adalah bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau suatu hal sedemikian rupa sehingga objek itu sepertinya dapat dilihat,dibayangkan oleh pembaca ,seakan – akan pembaca dapat melihat sendiri.Deskripsi memiliki fungsi membuat para pembacanya seolah melihat barang – barang atau objeknya.objek yang dideskripsikan mungkin sesuatu yang bias ditangkap dengan panca indra kita ,contohnya, sebuah hamparan sawah yang hijau dan pemandangan yang indah ,jalan – jalan kota ,tikus – tikus selokan ,wajah seorang yang cantik molek atau seorang yang bersedih hati ,alunan music dan sebagainya.
Wacana narasi
Wacana narasi merupakan satu jenis wacana yang berisi cerita.pada wacana narasi terdapat unsur–unsur cerita yang penting, seperti waktu, pelaku, peristiwa. Adanya aspek emosi yang yang dirasakan oleh pembaca dan penerima. Melalui narasi,pembaca atau penerima pesan dapat membentuk citra atau imajinasi.
Contoh:
Sewaktu aku duduk diruang pengadilan yang penuh sesak itu menunggu perkara ku disidangkan,dalam hatiku bertanya – Tanya berapa banyak orang – orang hari ini disini yang merasa,seperti apa yang kurasakan bingung,patah hati,dan sangat kesepian .Aku merasa seolah – olah aku memikul beban berat seluruh dunia di pundakku.
 BAB IV
SEMANTIK

PENGERTIAN SEMANTIK
        Pengertian semantika dikemukakan oleh beberapa ahli, di antaranya Kridalaksana (2001: 193) memberi pengertian semantika sebagai sebuah sistem dan penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa atau bahasa pada umumnya.
         Ekowardono (2013: 2), mengemukakan bahwa semantika  adalah ilmu bahasa yang mengkaji makna bahasa, sedangkan menurut Keraf (1984: 129), semantik adalah bagian dari tatabahasa yang meneliti makna dalam bahasa tertentu, mencari asal mula dan perkembangan dari arti suatu kata.
           Pengertian semantika juga dikemukakan oleh Verhaar (2006: 13), bahwa semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna. Menurut Leech (2003: 19), semantik merupakan studi tentang makna dalam pengertian yang luas yaitu ‘semua yang dikomunikasikan melalui bahasa’. Filsuf Perancis, Ricoeur (2012: 30), mendefinisikan semantik sebagai ilmu tentang kalimat, langsung fokus pada konsep makna (yang dalam tahapan ini sinonim dengan meaning).
         Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa semantik adalah ilmu bahasa yang menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, serta hubungan antara kata dengan konsep atau makna dari kata tersebut.
            Pada tahun 1923 muncul buku The Meaning of Meaning karya Ogden & Richards yang menekankan hubungan tiga unsur dasar, yakni ‘thought of reference’ (pikiran) sebagai unsur yang menghadirkan makna tertentu yang memiliki hubungan signifikan dengan referent(acuan). Pikiran memiliki hubungan langsung dengan symbol (lambang). Lambang tidak memiliki hubungan langsung dengan symbol (lambang). Lambang tidak memiliki hubungan yang arbitrer. Sehubungan dengan meaning, para pakar semantik biasa menetukan fakta bahwa asal kata meaning(nomina) dari to mean (verba), di dalamnya banyak mengandung ‘meaning’ yang berbeda-beda. Leech (1974) menyatakan bahwa ahli-ahli semantik sering tidak wajar memikirkan’the meaning of meaning’ yang diperlukan untuk pengantar studi semantik. Mereka sebenarnya cenderung menerangkan semantik dalam hubungannya dengan ilmu lain; para ahli sendiri masih memperdebatkan bahwa makna bahasa tidak dapat dimengerti atau tidak dapat dikembangkan kecuali dalam makna nonlinguistik.

BATASAN ILMU SEMANTIK
          Istilah Semantik lebih umum digunakan dalam studi ingustik dari pada istilah untuk ilmu makna lainnya,seperti Semiotika, semiologi, semasiologi, sememik, dan semik.Ini dikarenakan istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang cukup luas,yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda lalu lintas, morse, tanda matematika,dan juga tanda-tanda yang lain sedangkan batasan cakupan dari semantik adalah makna atauarti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal.

HUBUNGAN SEMANTIK DENGAN TATARAN ILMU SOSIAL LAIN
        Berlainan dengan tataran analisis bahasa lain, semantik adalah cabang imu linguistik yang memiliki hubungan dengan Imu Sosial, seperti sosiologi dan antropologi. Bahkan jugadengan filsafat dan psikologi.
Semantik dan Sosiologi
       Semantik berhubungan dengan sosiologi dikarenakan seringnya dijumpai kenyataan bahwa penggunaan kata tertentu untuk mengatakan sesuatu dapat menandai identitaskelompok penuturnya.
Contohnya :
Penggunaan / pemilihan kata ‘cewek’ atau ‘wanita’, akan dapat menunjukkan identitas kelompok penuturnya.
Kata ‘cewek’ identik dengan kelompok anak muda, sedangkan kata ‘wanita’ terkesan lebih sopan, dan identik dengan kelompok orang tua yang mengedepankankesopanan.
Semantik dan Antropologi.
Semantik dianggap berkepentingan dengan antropologi dikarenakan analisis makna padasebuah bahasa, menalui pilihan kata yang dipakai penuturnya, akan dapat menjanjikan klasifikasi praktis tentang kehidupan budaya penuturnya.
Contohnya :
Penggunaan / pemilihan kata ‘ngelih’ atau ‘lesu’ yang sama-sama berarti ‘lapar’ dapatmencerminkan budaya penuturnya.
Karena kata ‘ngelih’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat Jogjakarta. Sedangkan kata ‘lesu’ adalah sebutan untuk ‘lapar’ bagi masyarakat daerah Jombang.

ANALISIS SEMANTIK
       Dalam analisis semantik, bahasa bersifat unik dan memiliki hubungan yang erat dengan budaya masyarakat penuturnya. Maka, suatu hasil analisis pada suatu bahasa, tidak dapat digunakan untuk menganalisi bahasa lain.
Contohnya penutur bahasa Inggris yang menggunakan kata ‘rice’ pada bahasa Inggrisyang mewakili nasi, beras, gabah dan padi. Kata ‘rice’ akan memiliki makna yang berbeda dalam masing-masing konteks yang berbeda. Dapat bermakna nasi, beras, gabah, atau padi.
Tentu saja penutur bahasa Inggris hanya mengenal ‘rice’ untuk menyebut nasi, beras,gabah, dan padi. Itu dikarenakan mereka tidak memiliki budaya mengolah padi, gabah, beras dannasi, seperti bangsa Indonesia.
Kesulitan lain dalam menganalisis makna adalah adanya kenyataan bahwa tidak selalu penanda dan referent-nya memiliki hubungan satu lawan satu. Yang artinya, setiap tanda lingustik tidak selalu hanya memiliki satu makna.
Adakalanya, satu tanda lingustik memiliki dua acuan atau lebih. Dan sebaliknya, duatanda lingustik, dapat memiliki satu acuan yang sama.
Hubungan tersebut dapat digambarkan dengan contoh-contoh berikut :
Bisa =  racun = dapat
Buku, Kitab = Lembar kertas berjilid


JENIS SEMANTIK
Semantik memiliki memiliki objek studi makna dalam keseluruhan semantika bahasa,namun tidak semua tataran bahasa memiliki masalah semantik Leksikon. Tataran tata bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran, yaitu morfologi dan sintaksis.
Morfologi adalah cabang lnguistik yang mempelajari struktur intern kata, serta proses pembentukannya. Satuan dari morfologi yaitu morfem dan kata.
Contoh :
Ajar  = Pe – lajar
Be – lajar ( pe- dan be- dapat membedakan makna )
Sedangkan sintaksis, adalah studi mengenai hubungan kata dengan kata dalam membentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat. Sintaksis memiliki satuanyaitu kata, frase, klausa, dan kalimat.
Semantik sintaktikal memiliki tataran bawahan yang disebut :
a) Fungsi gramatikal
b) Kategori gramatikal
c) Peran gramatikal
Contoh analisis semantik sintaktikal
Kata fungsi
Si udin
Menjaga
adiknya
Di rumah sakit

Fungsi
Subjek
Predikat
objek
Keterangan

kategori
Nomina
Verba
nomina
Nomina

Peran
Agen
Benefaktif
patient
Locative

  Satuan dan proses dari morfologi dan sintaktik memiliki makna. Oleh karena itu, pada tataran ini ada masalah-masalah semantik yang disebut semantik gramatikal karena objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut.
Kalau yang menjadi objek penyelidikan adalah semantik leksikon, maka jenis semantiknya adalah
semantik leksikal
.      Semantik leksikal menyelidiki makna yang ada pada leksem dari bahasa. Oleh karena itu, makna yang ada dalam leksem disebut makna leksikal.Leksem adalah satuan-bahasa bermakna. Istilah leksem ini dapat dipadankan dengan istlah kata, yang lazim digunakan dalam studi morfologi dan sintaksis,dan yang lazim didefiinisikan sebagai satuan gramatik bebas terkecil. Baik kata tunggal maupun kompositum
Contoh :
Kambing = nama hewan
Hitam = jenis warna
Kambing hitam = orang yang dipersalahkan

JENIS MAKNA
Jenis makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Berdasarkan jenis semantiknya dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal.
Berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata dapat dibedakan adanya makna referensial dan nonreferensial.
Berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata dapat dibedakan adanya makna konotatif dan denotatif.
Berdasarkan ketepatan maknanya dapat dibedakan adanya makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Selain pembagian tersebut, jenis makna dapat pula digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu (a) makna leksikal dan (b) makna kontekstual.
Makna Leksikal
Makna leksikal (leksical me3aning, sematic meaning, external meaning) adalah makna kata yang berdiri sendiri baik dalam bentuk dasar maupun dalam bentuk kompleks (turunan) dan makna yang ada tetap seperti apa yang dapat kita lihat dalam kamus. Makna leksikal dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu (a) makna konseptual yang meliputi makna konotatif, makna afektif, makna stilistik, makna kolokatif dan makna idiomatik.
Makna Konseptual
Makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan konsepnya makna yang sesuai dengan referennya, dan makna yang bebas asosiasi atau hubungan apa pun. Makna konseptual disebut juga makna denotatif, makna referensial, makna kognitif, atau makna deskriptif. Makna konseptual dianggap sebagai faktor utama dalam setiap komunikasi.
Makna Generik
Makna generik adalah makna konseptual yang luas, umum, yang mencakup beberapa makna konseptual yang khusus atau sempit. Misalnya, sekolah dalam kalimat “Sekolah kami menang.” Bukan saja mencakup gedungnya, melainkan guru-guru, siswa-siswa dan pegawai tata usaha sekolah bersangkutan.
Makna Spesifik
Makna spesifik adalah makna konseptual, khas, dan sempit. Misalnya jika berkata “ahli bahasa”, maka yang dimaksud bukan semua ahli, melainkan seseorang yang mengahlikan dirinya dalam bidang bahasa.

Makna Asosiatif
Makna asosiatif disebut juga makna kiasan atau pemakaian kata yang tidak sebenarnya. Makna asosiatif adalah makna yang dimilki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata dengan keadaan di luar bahasa. Misalnya kata bunglon berasosiasi dengan makna orang yang tidak berpendirian tetap.
Makna Konotatif
Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap kata yang diucapkan atau didengar. Makna konotatif adalah makna yang digunakan untuk mengacu bentuk atau makna lain yang terdapat di luar makna leksikalnya.
Makna Afektif
Makna afektif merupakan makna yang muncul akibat reaksi pendengar atau pembaca terhadap penggunaan bahasa. Oleh karena itu, makna afektif berhubungan dengan gaya bahasa.
Makna Stilistik
Makna stilistik berhubungan dengan pemakaian bahasa yang menimbulkan efek terutama kepada pembaca. Makna stilistik lebih dirasakan di dalam sebuah karya sastra. Sebuah karya sastra akan mendapat tempat tersendiri bagi kita karena kata yang digunakan mengandung makna stalistika. Makna stalistika lebih banyak ditampilkan melalui gaya bahasa.
Makna Kolokatif
Makna kolokatif adalah makna yang berhubungan dengan penggunaan beberapa kata di dalam lingkungan yang sama. Misalnya kata ikan, gurami, sayur, tomat tentunya kata-kata tersebut akan muncul di lingkungan dapur. Ada tiga keterbatasan kata jika dihubungkan dengan makna kolokatif, yaitu (a) makna dibatasi oleh unsur yang membentuk kata atau hubungan kata, (b) makna dibatasi oleh tingkat kecocokan kata, (c) makna dibatasi oleh kecepatan.
Makna Idiomatik
Makna idiomatik adalah makna yang ada dalam idiom, makna yang menyimpang dari makna konseptual dan gramatikal unsur pembentuknya. Dalam bahasa Indonesia ada dua macam bentuk idiom yaitu (a) idiom penuh dan (b) idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna. Idiom sebagian adalah idiom yang di dalamnya masih terdapat unsur yang masih memiliki makna leksikal.
Makna Kontekstual
Makna kontekstual muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dengan situasi. Makna kontekstual disebut juga makna struktural karena proses dan satuan gramatikal itu selalu berkenaan dengan struktur ketatabahasaan.
Makna Gramatikal
Makna grmatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat digabungkannya sebuah kata dalam suatu kalimat. Makna gramatikal dapat pula timbul sebagai akibat dari proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi dan komposisi.
Makna Tematikal
Makna tematikal adalah makna yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis, baik melalui urutan kata-kata, fokus pembicaraan, maupun penekanan pembicaraan.
Realasi makna
Relasi Makna adalah hubungan antara makna yang satu dengan makna kata yang lain. Pada dasarnya prinsip relasi makna ada empat jenis, yaitu :
(1) prinsip kontiguitas,
(2) prinsip kolementasi,
(3) prinsip overlaping
(4) inklusi.
Prinsip kontiguitas yaitu prinsip yang menjelaskan bahwa beberapa kata dapat memiliki makna sama atau mirip. Prinsip ini dapat menimbulkan adanya relasi makna yang disebut sinonimi.
Prinsip komplementasi yaitu prinsip yang menjelaskan bahwa makna kata yang satu berlawanan dengan makna kata yang lain. Prinsip ini dapat menimbulkan adanya relasi makna yang disebut antonimi.
Prinsip overlaping yaitu prinsip yang menjelaskan bahwa satu kata memiliki makna yang berbeda atau kata-kata yang sama bunyinya tetapi mengandung makna berbeda. Prinsip ini dapat menimbulkan adanya relasi makna yang disebut homonimi dan polisemi.
Prinsip inklusi yaitu prinsip yang menjelaskan bahwa makna satu kata mencakup beberapa makna kata lain. Prinsip ini dapat menimbulkan adanya relasi makna yang disebut hiponimi.
Sinonimi
Sinonimi adalah nama lain untuk benda atau hal yang sama. Sinonimi yaitu suatu istilah yang mengandung pengertian telaah, keadaan, nama lain.
Contoh: pintar, pandai, cerdik, cerdas, cakap, mati, meninggal, berpulang, mangkat wafat
Sinonimi tidak mutlak memiliki arti yang sama tetapi mendekati sama atau mirip. Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya sinonimi adalah penyerapan kata-kata asing, penyerapan kata-kata daerah, makna emotif dan evaluatif. Kata bersinonimi tidak dapat dipertukarkan tempatnya karena dipengaruhi oleh
(1) faktor waktu,
(2) faktor tempat atau daerah,
(3) faktor sosial,
(4) faktor kegiatan dan
(5) faktor nuansa makna.
Homonimi adalah kata-kata yang sama bunyi dan bentuknya tetapi mengandung makna dan pengertian yang berbeda.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya homonimi adalah (1) kata-kata yang berhomonimi itu berasal dari bahasa atau dialek yang berlainan, (2) kata-kata yang berhomonimi itu terjadi sebagaimana hasil proses morfologis.
Homonimi yang homograf dan homofon adalah sama bunyi sama bentuknya.
Contoh:
bisa = sanggup, dapat
bisa = racun ular
jagal = pedagang kecil
jagal =  orang yang bertugas menyembelih binatang
padan =  banding
padan =  batas
padan =  janji
padan =  curang
padan = layar
Homonimi yang tidak homograf tetapi homofon adalah bentuknya tidak sama tetapi bunyinya sama.
Contoh:
bang =  bentuk singkatan dari abang
bank =  lembaga yang mengurus uang
sangsi =  ragu
sanksi =  akibat
syarat =  janji
sarat =  penuh dan berat
Homonimi yang homograf tidak homofon sama bentuk tetapi tidak bunyinya.
Contoh: teras =  hati kayu atau bagian dalam kayu  teras = pegawai utama
teras = bidang tanah datar yang miring atau lebih tinggi dari yang lain
Antonimi adalah nama lain untuk benda lain pula atau kebalikannya.
Oposisi kembar yaitu perlawanan kata yang merupakan pasangan atau kembaran yang mencakup dua anggota.
Contoh:
laki-laki = perempuan
kaya =  miskin
ayah =  ibu
Oposisi gradual yaitu penyimpangan dari oposisi kembar antara dua istilah yang berlawanan masih terdapat sejumlah tingkatan antara. Contoh: kaya dan miskin, besar dan kecil
Pada kata tersebut terdapat tingkatan (gradual) sangat kaya – cukup kaya – kaya – miskin – cukup miskin – sangat miskin, sangat besar – lebih besar – besar – kecil – lebih kecil – sangat kecil.
Oposisi majemuk yaitu oposisi yang mencakup suatu perangkat yang terdiri dari dua kata. Satu kata berlawanan dengan dua kata atau lebih.
<>Contoh:    duduk  Berdiri  <>    berbaring              berjongkok  tiarap
Oposisi relasional yaitu oposisi antara dua kata yang mengandung relasi kebalikan, relasi pertentangan yang bersifat saling melengkapi.
Contoh:    menjual beroposisi membeli
      suami beroposisi istri
      utara beroposisi selatan
Oposisi hirarkis, oposisi ini terjadi karena setiap istilah menduduki derajat yang berlainan. Oposisi ini pada hakikatnya sama dengan oposisi majemuk. Kata-kata yang beroposisi hirarkis adalah kata-kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang, dan isi), satuan hitungan, nama jenjang kepangkatan dan sebagainya.
Contoh:   meter beroposisi dengan kilometer
     kuintal beroposisi dengan ton
Oposisi inversi, oposisi ini terdapat pada pasangan kata seperti beberapa – semua, mungkin – wajib. Pengujian utama dalam menetapkan oposisi ini adalah apakah kata itu mengikuti kaidah sinonimi yang mencakup (a) penggantian suatu istilah dengan yang lain dan (b) mengubah posisi suatu penyangkalan dalam kaitan dengan istilah berlawanan.
Contoh: beberapa negara tidak mempunyai pantai = tidak semua negara mempunyai pantai
Polisemi adalah relasi makna suatu kata yang memiliki makna lebih dari satu atau kata yang memiliki makna yang berbeda-beda tetapi masih dalam satu aluran arti.
Kata berhomonimi adalah kata-kata yang sama bunyi dan bentuknya.
Contoh:    bisa = dapat
      bisa = racun
Sedangkan polisemi adalah relasi makna suatu kata yang memiliki makna lebih dari satu atau kata yang memiliki makna berbeda-beda tetapi masih dalam satu arti.
Contoh: kepala
bagian tubuh dari leher ke atas
bagian dari suatu yang terletak di sebelah atas atau depan yang merupakan hal yang penting
pemimpin atau ketua
Dua cara untuk menentukan bahwa suatu kata tergolong polisemi atau homonimi,
pertama melihat etimologi atau pertalian historisnya. Kata buku misalnya, adalah homonimi yakni
buku yang merupakan kata asli bahasa Indonesia yang berarti ‘tulang sendi’
 buku yang berasal dari bahasa Belanda yang berarti ‘kitab, pustaka’.
Kedua, dengan mengetahui prinsip perluasan makna dari suatu makna dasar.
Hiponimi ialah semacam relasi antarkata yang berwujud atas bawah, atau dalam suatu makna terkandung sejumlah komponen yang lain.
Hiponimi adalah semacam relasi antarkata yang berwujud atas bawah, atau dalam suatu makna terkandung sejumlah komponen yang lain. Kelas atas mencakup sejumlah komponen yang lebih kecil, sedangkan kelas bawah merupakan komponen yang mencakup dalam kelas atas. Contoh: Januari, Februari, Maret, April hiponimi dari kata bulan. Kelas atas disebut hipernim, contohnya, ikan hipernimnya tongkol, gabus, lele, teri.

MANFAAT SEMANTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA
       Semantik adalah studi tentang makna. Ini adalah subjek yang luas dalam studi umum bahasa. Pemahaman semantik sangat penting untuk mempelajari bahasa akuisisi (bagaimana pengguna bahasa memperoleh makna, sebagai pembicara dan penulis, pendengar dan pembaca) dan perubahan bahasa (bagaimana mengubahmakna dari waktu ke waktu). Sangat penting untuk memahami bahasa dalam kontekssosial, karena ini cenderung mempengaruhi arti, dan untuk memahami jenis bahasaInggris dan efek gaya.
Oleh karena itu salah satu konsep yang paling mendasar dalam linguistik. Kajian semantik meliputi studi tentang bagaimana makna dibangun, diinterpretasikan, diklarifikasi, tertutup, ilustrasi, disederhanakandinegosiasikan, bertentangan dan mengulangi.Makna bahasa, khususnya makna kata, terpengaruh oleh berbagai konteks.Makna kata dapat dibangun dalam kaitannya dengan benda atau objek di luar bahasa.Dalam konsepsi ini, kata berperan sebagai label atau pemberi nama pada benda- benda atau objek-objek yang berada di alam semesta.
Makna kata juga dapat dibentuk oleh konsepsi atau pembentukan konsepsi yang terjadi dalam pikiran pengguna bahasa. Proses pembentukannya berkait dengan pengetahuan atau persepsi penggunaan bahasa tersebut terhadap fenomena, benda atau peristiwa yang terjadi diluar bahasa. Dalam konteks ini, misalnya penggunaan bahasa akan tidak sama dalammenafsirkan makna kata demokrasi karena persepsi dan konsepsi mereka berbedaterhadap kata itu. Selain kedua konsepsi itu, makna kata juga dapat dibentuk olehkaitan antara stimulus, kata dengan respons yang terjadi dalam suatu peristiwa ujaran.Beranjak dari ketiga konsepsi ini maka kajian semantik pada dasarnya sangat bergantung pada dua kecenderungan. Pertama, makna bahasa dipengaruhi olehkonteks di luar bahasa, benda, objek dan peristiwa yang ada di alam semesta. Kedua,kajian makna bahasa ditentukan oleh konteks bahasa, yakni oleh aturan kebahasaan suatu bahasa.Uraian di atas menunjukkan bahwa beberapa konsep dasar dalam semantik  penting untuk dipahami. Contoh, pengertian  sense berbeda dari pengertian reference.
Pertama, merujuk kepada hubungan antar kata dalam suatu sistem bahasa dilihat dari kaitan maknanya. Sedangkan yang kedua merujuk kepada hubungan antara kata dengan benda, objek atau peristiwa di luar bahasa dalam pembentukan makna kata.Begitu pula dengan pengertian tentang kalimat, ujaran dan proposisi perlu dipahami dalam kajian antik. Dalam keseharian, kerap tidak kita bedakan atau kalimat dengan ujaran. Kalimat sebagaimana kita pahami satuan tata bahasa yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat. Sedangkan ujaran dapat terdir idari satu kata, frase atau kalimat yang diujarkan oleh seorang penutur yang ditandai oleh adanya unsur fonologis, yakni kesenyapan. dalam semantik kedua konsep ini memperlihatkan sosok kajian makna yang berbeda. Makna ujaran, misalnya lebih banyak dibahas dalam semantik tindak tutur. Peran konteks pembicaraan dalam mengungkapkan makna ujaran sangat penting. Sementara kajian makna kalimat lazimnya lebih memusatkan pada konteks tata bahasa dan unsur lain yang dapatdicakup dalam tata bahasa dalam bahasa Inggris, misalnya unsur waktu dapat di gramatikakan yang terwujud dalam perbedaan bentuk kata kerja. Beberapa daerah yang penting dari teori semantik atau ajaran yang dipelajari sematik diantaranya yaitu:
Simbol dan rujukan
Konsepsi makna
Kata-kata dan lexemes
 Denotasi, konotasi, implikasi
Pragmatik
Ambiguitas
Metaphor, simile dan symbol
Semantic bidang
Sinonim, antonim dan hyponym
 Collocation, ekspresi tetap dan idiom
Semantic perubahan dan etimologi* Polisemi
Homonimi, homofon dan homographs
Leksikologi dan leksikografi
Thesauruses, perpustakaan dan Web portal
Epistemologi.
Jadi dengan memahami dan menguasai semantic, akan mempermudah dan memperlancar dalam pembelajaran bahasa berikutnya misalkan dalam mempelajari pragmatik, karena pada dasarnya kedua bidang bahasa ini saling berhubungan danmenunjang satu sama lain. Bagi pelajar sastra, pengetahuan semantik akan banyak member bekal teoritis untuk menganalisis bahasa yang sedang dipelajari. Sedangkan bagi pengajar sastra, pengetahuan semantik akan member manfaat teoritis, maupun praktis. Secara teoritis, teori-teori semantik akan membantu dalam memahami dengan lebih baik bahasa yang akan diajarkannya. Dan manfaat praktisnya adalah kemudahan untuk mengajarkannya.

BAB V
ANALISIS WACANA

Pengertian Wacana dan Analisis Wacana
Wacana : Wacana dalam bahasa inggris disebut discourse. Secara bahasa, wacana berasal dari bahasa Sansekerta “wac/wak/vak” yang artinya “berkata, berucap” kemudian kata tersebut mengalami perubahan menjadi wacana. Kata ‘ana’ yang berada di belakang adalah bentuk sufiks (akhiran) yang bermakna “membendakan”. Dengan demikian, kata wacana dapat diartikan sebagai perkataaan atau tuturan. Menurut kamus bahasa kontemporer, kata wacana itu mempunyai tiga arti. Pertama, percakapan; ucapan; tuturan. Kedua, keseluruhan cakapan yang merupakan satu kesatuan. Ketiga, satuan bahasa terbesar yang realisasinya merupakan bentuk karangan yang utuh.
Lubis mendefinisikan bahwa wacana adalah kumpulan pernyataan-pernyataan yang ditulis, atau diucapkan, atau dikomunikasikan dengan menggunakan tanda-tanda.
Analisis wacana merupakan suatu kajian yang menenliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah,baik dalam bentuk tulis maupun lisan terhadapa para pengguna sebagai suatu elemen masyrakat.
Istilah analisis wacana adalah istilah umum yang dipakai di dalam berbagai disiplin ilmu dengan berbagai pengertian.Titik singgung analisis wacana adalah studi yang berhubungan dengan pemakaian bahasa.
KLASIFIKASI WACANA
Wacana yang merupakan suatu disiplin ilmu yang luas dan kompleks memiliki bagian-bagian yang kecil atau klasifikasinya, berikut akan diuraikan klasifikasi menurut para ahli:
Chaer (2003:272) mengatakan bahwa pelbagai jenis wacana sesuai dengan sudut pandang dari mana wacana itu dilihat, diantara lain: (1) wacana lisan dan tulisan, hal ini berkenaan dengan sarananya, yaitu bahasa lisan atau bahasa tulis. (2) wacana prosa dan wacana puisi, dilihat dari penggunaan bahasa apakah dalam bentuk uraian ataukah dalam bentuk puitik. Selanjutnya, wacana prosa ini dilihat dari penyampaian isinya dan dibedakan lagi menjadi wacana narasi, wacana eksposisi, wacana persuasi, dan wacana argumentasi.
Pendapat lain dari Juita (1999:50-55) menggolongkan wacana lebih terperinci dan berkelompok-kelompok, yaitu:

Klasifikasi Wacana Berdasarkan tujuan
Berdasarkan pengelompokkan ini  Kinneavy dalam Parera (1990:114) (dalam Juita 1999:50-55) membedakan empat kelompok wacana berdasarkan tujuannya, yaitu:
Wacana Ekspresif
Wacana ekspresif adalah wacana yang lebih ditujukan kepada pembuat (penulis atau pembicara) itu sendiri. Wacana ini diciptakan oleh si pembuat untuk kepentingan dirinya sendiri. Tidak terlalu menghiraukan audiens. Wacana ini bersifat individual dan sosial. Misalnya, catatan harian, deklarasim dan lain-lain.
Wacana Referensial
Wacana referensial adalah wacana yang lebih tertuju kepada penggambaran fakta atau realita dan data. Wacana ini tidak semata-mata ditujukan kepada decoder ataupun encoder, tetapi lebih mengutamakan kepada penyampaian fakta dan data secara akurat. Wacana ini dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu wacana referensial ekspositoris dan wacana referensial ilmiah.
Wacana Susastra
Wacana susastra berbicara sesuai dengan realitas untuk realitas itu sendiri. Dalam wacana ini yang dominan bukanlah realitas itu sendiri, akan tetapi paduan imajinasi pengarang hingga membentuk suatu rangkaian yang kompak . jadi, realitas objektif sudah diolah menjadi realitas imajinatif. Misalnya, novel, cerpen, dan lain-lain.
Wacana persuasive
Wacana persuasive adalah wacana yang memang diciptakan untuk decoder (pembaca atau pendengar). Tujuannya adalah untuk mempengaruhi. Misalnya iklan, pidato politik, khotbah, dan lain-lain.
Klasifikasi Wacana Berdasarkan Cara Pemaparan
Wacana Naratif
Wacana naratif adalah wacana yang lebih menonjolkan peran tokoh. Kejadian atau peristiwa dirangkai atau dijalin sedemikian rupa melalui peran-peran yang dimainkan oleh para tokoh. Urutan peristiwa dirangkai atau dijalin oleh pelaku secara kronologis. Kekuatan wacana ini terletak pada urutan cerita.
Wacana Prosedural
Wacana procedural adalah wacana yang menuturkan sesuatu secara berurutan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Unsur-unsur atau elemen-elemen yang ada tidak dapat dikacaukan urutanya, atau dibolak-balik. Urgensi unsur yang lebih dahulu merupakan landasan untuk unsur sesudahnya. Wacana ini dibuat untuk menjawab pertanyaan bagaimana cara sesuatu bekerja, atau bagaimana proses terjadinya, atau bagaimana proses melakukan sesuatu.
Wacana Hortatorik
Wacana ini adalah wacana yang berisi ajakan atau nasehat, dan kadang-kadang bersifat memperkuat keputusan supaya lebih meyakinkan. Wacana ini merupakan hasil atau produksi suatu waktu, dan bukan disusun berdaarkan urutan waktu.
Wacana Ekspositoris
Wacana ekspositoris ini merupakan rangkaian tutur yang mengetengahkan atau memaparkan suatu pokok pikiran atau permasalahan yang dibahas dengan cara menguraikan bagian-bagian atau unsur-unsurnya sedetail mungkin. Wacana ini memberikan berbagai informasi sehigga pembaca atau pendengar paham dengan baik tentang masalah yang dikemukakan. Wacana ini dilengkapi dengan ilustrasi atau contoh.
Wacana Deskript
Wacana ini merupakan rangkaian tutur yang melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman ataupun pengetahuan encoder. Wacana ini meransang seluruh indra decoder sehingga decoder merasa betul-betul menyaksikan objek, peristiwa, atau kejadian tersebut.
Klasifikasi Wacana Berdasarkan Pelibat
Wacana Monolog
Wacana monolog yaitu wacana yang secara langsung tidak menghendaki interaksi timbale balik antara encoder dan decoder. Wacana ini lebih didominasi oleh encoder, sedangkan decoder hanya bisa memberikan tanggapan, saran, ataupun pendapat. Akan tetapi, waktu tetap saja tersedia untuk decoder.
Wacana Dialog
Wacana dialog sesungguhnya ini merupakan wacana dialog yang spontan dengan segala keadaan, tidak ada rekayasa dalam wacana tersebut. Wacana ini dapat pula dikatakan wacana alamiah, misalnya percakapan di warung kopi. Selanjutnya wacana dialog teks, yaitu wacana dialog yang direkayasa sedemikian rupa. Penutur tinggal menghafal apa yang tertera dalam teks percakapan. Misalnya teks drama.

Wacana Berdasarkan Media
Wacana Lisan
Wacana lisan adalah wacana yang menggunakan bahasa lisan sebagai penyampaiannya. Wacana ini pada dasarnya diciptakan dalam waktu dan situasi yang nyata.  Oleh karena itu wacana ini dikaitkan dengan wacana interaktif.
Wacana Tulisan
Wacana tulis adalah wacana yang menggunaka bahasa tulis sebagai media penyampaiannya. Wacana tulis ini dapat pula berwujud sepenggal ikatan percakapan dalam rangkaian percakapan yang lengkap yang telah menggambarkan suatu situasi, maksud, dan rangkaian penggunaan bahasa. Wujud lain dari wacana tulis ini dapat berupa teks atau bahan tertulis yang bebentuk paragraf.


MANFAAT DAN TUJUAN ANALISIS WACANA
Melalui analisis wacana, kita dapat mengetahui isi teks yang terdapat pada suatu wacana.
mengetahui pesan yang ingin disampaikan, mengapa harus disampaikan, dan bagaimana pesan-pesan itu tersusun, dan dipahami.
Analisis Wacana akan memungkinkan untuk memperlihatkan motivasi yang tersembunyi di belakang sebuah teks atau di belakang pilihan metode penelitian tertentu untuk menafsirkan teks.

SEJARAH
Pada mulanya linguistik merupakan bagian dari filsafat. Linguistik modern, yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure pada akhir abad ke-19, mengkaji bahasa secara ilmiah. Kajian lingusitik modern pada umumnya terbatas pada masalah unsur-unsur bahasa, seperti bunyi, kata, frase, dan kalimat serta unsur makna (semantik). Kajian linguistik rupanya belum memuaskan. Banyak permasalahan bahasa yang belum dapat diselesaikan. Akibatnya, para ahli mencoba untuk mengembangkan disiplin kajian baru yang disebut analisis wacana.
Analisis wacana menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografi. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti, sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami hakikat bahasa, memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa.
Wacana sejak kemunculannya tahun 1970-an telah diakuai sebagai disiplin ilmu tersendiri.
Wacana sebagai disiplin ilmu tersendiri merupakan titik temu antara berbagai disiplin ilmu seperti linguistik, psikologi, sosiologi, antropologi, sejarah, politik, filsafat, dan komunikasi masa.
Di Indonesia, wacana mulai ramai dibicarakan dan dikajai oleh para ahli bahasa pada tahun 1980-an .
KAJIAN ANALISIS WACANA
Analisis wacana mengkaji wacana baik dari segi internal maupun eksternalnya. Dari segi internal, wacana dikaji dari jenis, struktur, dan hubungan bagian-bagian wacana; sedangkan dari segi eksternal, wacana dikaji dari segi keterkaitan wacana itu dengan pembicara, hal yang dibicarakan dan mitra bicara.

PERSPEKTIF ANALISIS WACANA
Menurut A.S Hikam dalam Eriyanto (2001: 4) ada tiga paradigma analisis wacana dalam melihat bahasa.
Pandangan positivisme-empiris
Penganut aliran ini melihat bahasa sebagai jembatan antara manusia dengan objek yang ada di luar dirinya. Pengalaman manusia dianggap dapat secara langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala aatau distorsi, sejauh ia dinyatakan dengan menggunakan pernyataan-pernyataan yang logis, sintaksis, dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris.
Salah satu cirri dari pemikiran ini adalah pemisahan antara ide/pemikiran dan realitas. Dalam kaitannya dengan analisis wacana, konsekuensi logis dari pemahaman ini adalah oranng tidak perlu mengetahui makna-makna subjektif atau nilai yang mendasari pernyataannya, sebab yang penting adalah apakah pernyataan itu dilontarkan secara benar menurut kaidah sintaksis dan seemantik. Oleh karena itu, kebenaran sintaksis (tata bahasa) adalah bidang utama dari aliran positivisme tentang wacana. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, titik perhatian utama aliran positivisme didasarkan pada benar tidaknya bahasa itu secara gramatikal. Istilah yang sering disebut adalah kohesi dan koherensi. Wacana yang baik selalu mengandung kohesi dan koherensi di dalamnya. Kohesi merupakan keserasian hubungan antar unsur-unsur dalam wacana, sedangkan koherensi merupakan kepaduan wacana sehingga membawa ide tertenti yang dipahami oleh khalayak.
Pandangan Kontruktivisme
Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. Disebut  Analisis Framing (discourse analysis).
Pandangan Kritis (Analisis Wacana Kritis)
analisis wacana kritis merupakan teori untuk melakukan kajian empiris tentang hubungan-hubungan antara wacana dan perkembangan sosial budaya. Untuk menganalisis wacana, yang salah satunya bisa dilihat dalam area linguistik dengan memperhatikan kalimat-kalimat yang terdapat dalam teks (novel) bisa menggunakan teori analisis wacana kritis.
analisis wacana digunakan untuk membongkar kuasa yang ada dalam setuap proses bahasa seperti, batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan.Dengan pandangan semacam ini, wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan, terutama dalam pembentukan subjek, dan berbagai tindakan representasi yang terdapat dalam masyarakat. Karena memakai perspektif kritis, (paradigma) analisis wacana yang ketiga ini sering juga disebut Critical Discourse Analysis/CDA. Tujuan analisis wacana kritis adalah menjelaskan dimensi linguistik kewacanaan fenomena sosial dan kultural dan proses perubahan dalam modernitas terkini.
Teun Van Dijk mengemukakan bahwa AWK digunakan untuk menganalisis wacana-wacana kritis, diantaranya politik, ras, gender, kelas sosial, hegemoni, dan lain-lain.
Selanjutnya Fairclough dan Wodak meringkas tentang prinsip-prinsip ajaran AWK sebagai berikut:
1) Membahas masalah-masalah sosial 2) Mengungkap bahwa relasi-relasi kekuasaan adalah diskursif 3) Mengungkap budaya dan masyarakat 4) Bersifat ideologi 5) Bersifat historis 6) Mengemukakan hubungan antara teks dan masyarakat 7) Bersifat interpretatif dan eksplanatori


Karakteristik AWK diantaranya :
Tindakan
Wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action) yang diasosiakan sebagai bentuk interaksi. Wacana dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan, apakah untuk mempengaruhi, mendebat, membujuk, menyangga, beraksi dan sebagainya, Seseorang berbicara atau menulis mempunyai maksud tertentu, baik besar maupun kecil. Kedua, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di luar kendali atau diekspresikan di luar kesadaran.
Konteks
Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana, seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana di sini dipandang diproduksi, dimengerti, dan dianalisis pada suatu konteks tertentu. Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks .
Historis Pemahaman mengenai wacana teks ini hanya akan diperoleh kalau kita bisa memberikan konteks historis di mana teks itu diciptakan. Bagaimana situasi sosial politik, suasana pada saat itu. Oleh karena itu, pada waktu melakukan analisis perlu tinjauan untuk mengerti mengapa wacana yang berkembang atau dikembangkan seperti itu, mengapa bahasa yang dipakai seperti itu, dan seterusnya.
Kekuasaan Setiap wacana yang muncul, dalam bentuk teks, percakapan atau apa pun, tidak dipandang sebagai seusatu yang alamiah, wajar dan netral tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Analisis wacana kritis tidak membatasi dirinya pada detil teks atau struktur wacana saja tetapi juga menghubungkan dengan kekuatan dan kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya tertentu. Kekuasaan itu dalam hubungannya dengan wacana, penting untuk melihat apa yang disebut sebagai kontrol. Kontrol di sini tidaklah harus selalu dalam bentuk fisik dan langsung tetapi juga kontrol secara mental atau psikis. Bentuk kontrol terhadap wacana tersebut dapat berupa kontrol atas konteks, atau dapat juga diwujudkan dalam bentuk mengontrol struktur wacana.
Ideologi
Wacana dipandang sebagai medium kelompok yang dominan mempersuasi dan mengkomunikasikan kepada khalayak produksi kekuasaan dan dominasi yang mereka miliki, sehingga tampak absah dan benar. Ideologi dari kelompok dominan hanya efektif jika didasarkan pada kenyataan bahwa anggota komunitas termasuk yang didominasi menganggap hal tersebut sebagai kebenaran dan kewajaran.

CIRI DAN SIFAT WACANA
Berdasarkan analisisnya, cirri dan sifat wacana menurut syamsuddin (1992:6) analisis wacanadapat dikemukakan sebagai berikut:
Analisis wacana membahas kaidah memakai bahasa didalam masyarakat (rule of use-menurut woddowson, 1978).
Analisis wacana merupakan usaha memahami makna tuturan dalam konteks, teks, dan situasi (Firth, 1957).
Analisis wacana merupakan pemahaman rangkaian tuturan melalui interpretasi semantic (Beller).
Analisis wacana berkaitan dengan pemahaman bahasa dalam tindak berbahasa (what is said from what is done menurut Labov, 1970).
Analisis wacana diarahkan kepada masalah memakai bahasa secara fungsional (functional use of language- menurut Coulthard, 1977).
Ciri-ciri dasar lain dapat diramu dari pendapat beberapa ahli, seperti merit, Sclegloff dan Sacls, Fraser, Searle, Richard, Halliday, Hasan, dan Horn, antara lain sebagai berikut. (Syamsuddin, 1992:6).
Analisis wacana bersifat interpretative pragmatis, baik bentuk bahasanya maupun maksudnya (form and notion).
Analisis wacana banyak bergantung pada interpretasi terhadap konteks dan pengetahuan yang luas (interpretation of world).
Semua unsur yang terkandung di dalam wacana dianalisis sebagai suatu rangkaian.
Wujud bahasa dalam wacana itu lebih jelas karena didukung oleh situasi yang tepat (All material used in real that is actually having occurred in appropriate situational).
Khusus untuk wacana dialog, kegiatan analisis terutama berkaitan dengan pertanyaan, jawaban, kesempatan berbicara, penggalan percakapan, dan lain-lain.

TOKOH ANALISIS WACANA
Tokoh analisis wacana adalah Sinclair dan Coulthard (1979). Mereka meneliti wacana yang dibentuk dalam interaksi guru dan murid di kelas. Mereka merekam sejumlah peristiwa belajar-mengajar di sekolah dasar di Inggris. Menurut Coulthard (1997) analisis wacana dimulai oleh ide Firth yang mengungkap tentang linguistik kontekstual bahwa bahasa baru bermakna apabila berada dalam suatu konteks. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Brown dan Yule (1983:27-67) yang menyatakan bahwa dalam menginterpretasi makna sebuah ujaran perlu memperhatikan konteks, karena kontekslah yang akan memaknai ujaran.
BAB VI
SOSIOLINGUISTIK

PENGERTIAN SOSIOLINGUISTK
Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistic, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat. Maka, untuk memahami apa sosiolinguistik itu, perlu terlebih dahulu dibicarakan apa yang dimaksud dengan sosiologi dan linguistic itu.bahwa sosiologi itu adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia didalam masyarakat, dan mengenai lembaga-lembaga, dan proses social yang ada didalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian, secara mudah dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu didalam masyarakat.

KOMUNIKASI BAHASA
Fungsi bahasa dalam komunikasi bahasa :
Pihak yang berkomunikasi
Yakni pengirim dan penerima  informasi yang dikomunikasikan atau  yang lebih dikenal dengan partisipan.
Isi (informasi)
Merupakan informasi yang dikomunikasikan
Alat yang digunakan
Yaitu (sebagai sebuah system lambang),  tanda-tanda (baik berupa gambar, warna ataupun bunyi) dan gerak-gerik tubuh.
Berdasarkan alat yang digunakan ini dibedakan ada 2 macam, yaitu :
Komunikasi non-verbal
Adalah komunikasi yang menggunakan alat bukan bahasa, seperti peluit, senter / lampu, dll.
Komunikasi verbal
Adalah komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai  alatnya. Bahasa yang digunakan dalamkomunikasi ini tentunya harus merupakan kode yang sama-sama dipahami oleh pihak penutur dan pihak pendengar.

VARIASI BAHASA
Bahasa menjadi beragam dan bervariasi (catatan: istilah variasi  sebagai padanan kata Inggris variety bukan variation). Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Setiap kegiatan memerlukan atau menyebabkan terjadinya keragaman bahasa itu. Keragaman ini akan semakin bertambah kalau bahasa tersebut digunakan oleh penutur yang sangat banyak, serta dalam wilayah yang sangat luas.
  Dalam hal variasi atau ragam bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi  atau ragam bahasa itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi atau ragam bahasa itu terjadi sebagai akibat adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Andaikata penutur bahasa itu adalah kelompok yang homogen, baik etnis, status sosial maupun lapangan pekerjaannya, maka variasi atau keragaman itu tidak akan ada; artinya, bahasa itu menjadi seragam. Kedua, variasi atau ragam bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Variasi atau ragam bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan di dalam masyarakat sosial.
Adapun variasi-variasi bahasa tersebut yaitu:
Segi Penutur
Idiolek
Idiolek yaitu variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-masing. Variasi idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya. Namun yang paling dominan adalah “warna “ suara itu, sehingga jika kita cukup akrab dengan seseorang, hanya dengan mendengar suara bicaranya tanpa melihat orangnya, kita dapat mengenalinya. Mengenali idiolek seseorang dari bicaranya memang lebih mudah daripada melalui karya tulisnya.
Dialek
Dialek yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Karena dialek ini lazim disebut dialek areal, dialek regional, atau dialek geografi.
Kronolek
Kronolek atau dialek temporal yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu.
Sosiolek
Sosiolek atau dialek sosial yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya.
Segi Keformalan
Berdasarkan tingkat keformalannya, Martin Joos (1967) dalam bukunya The Five Clock membagi variasi bahasa atas lima macam gaya (inggris: Style), yaitu:
Ragam beku (frozen)
Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi-situasi khidmat, dan upacara-upacara resmi, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah di mesjid, tata cara  pengambilan sumpah; kitab undang-undang, akte notaris, dan surat-surat keputusan. Disebut ragam beku karena pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap, tidak boleh diubah.
Ragam resmi (formal)
Ragam resmi atau formal adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan,rapat dinas, surat-menyurat dinas,ceramah keagamaan, buku-buku pelajaran, dan sebagainya.
Ragam Usaha (konsultatif)
Ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, dan rapat-rapat atau pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Jadi, dapat dikatakan ragam usaha ini adalah ragam bahasa yang paling   operasional. Wujud bahasa ini berada diantara ragam formal dan ragam informal atau ragam santai.
Ragam santai (casual)
Ragam santai atau ragam kasual adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu beristirahat, berolah raga, berekreasi dan sebagainya.
Ragam akrab (intimate)
Ragam akrab atau ragam intim adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti antaranggota keluarga, atau antarteman yang sudah karib.
Segi Sarana
Variasi bahasa dapat juga dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Dalam hal ini disebut adanya ragam lisan dan ragam tulis, atau juga  ragam dalam berbahasa dengan menggunakan sarana atau alat tertentu, yakni misal dalam menelpon atau bertelegram. Adanya ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa lisan  dan bahasa  tulis memiliki wujud struktur yang tidak sama. Umpamanya kalau kita menyuruh seseorang memindahkan sebuah kursi yang ada dihadapan kita, maka secara lisan sambil menunjuk atau mengarahkan pandangan pada kursi itu kita cukup mengatakan,”tolong pindahkan ini”.


BILLINGUALISME
Kedwibahasaan (Bilingualisme)
Istilah  billingualisme (Inggris: Billingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilahnya saja secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualism itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa.
Konsep umum bahwa bilingualisme adalah digunakannya dua buah bahasa oleh seorang penuturdalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian telah menimbulkan sejumlah masalah yang biasa dibahas kalau orang membicarakan bilingualism.
Dislogsia
Kata diglosia berasal dari bahasa Prancis diglossie, yang pernah digunakan oleh  Marcais, seorang linguis Prancis, tetapi istilah itu menjadi terkenal dalam studi linguistic setelah digunakan oleh seorang sarjana dari Stanford University, yaitu C.  A.Ferguson tahun 1958 dalam suatu symposium tentang “Urbanisasi dan bahasa-bahasa standar” yang diselenggarakan oleh American Antrophological Assosiation di Washington SC.

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE
Alih Kode (gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi)
Alih kode atau code switching adalah peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain dalam suatu peristiwa tutur. Misalnya, penutur menggunakan bahasa Indonesia beralih menggunakan bahasa Inggris. Alih kode merupakan salah satu aspek ketergantungan bahasa (language dependency) dalam masyarakat multilingual. Dalam alih kode masing-masing bahasa cenderung masih mendukung fungsi masing-masing dan  masing-masing fungsi sesuai dengan konteksnya.
Nababan (1984:31) menyatakan bahwa konsep alih kode ini mencakup juga kejadian pada waktu kita beralih dari satu ragam bahasa yang satu ke ragam yang lain. Misalnya, ragam formal ke ragam santai, dari kromo inggil (bahasa jawa) ke bahasa ngoko dan lain sebagainya. Kridalaksana (1982:7) mengemukakan bahwa penggunaan variasi bahasa lain untuk menyesuaikan diri dengan peran atau situasi lain, atau karena adanya partisipasi lain disebut alih kode. Holmes (2001:35) menegaskan bahwa suatu alih kode mencerminkan dimensi jarak sosial, hubungan status, atau tingkat formalitas interaksi para penutur.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa alih kode merupakan gejala peralihan pemakaian bahasa karena perubahan  peran dan situasi. Alih kode menunjukkan adanya saling ketergantungan antara fungsi kontekstual dan situasional yang relevan dalam pemakaian dua bahasa atau lebih.
Campur Kode (tidak ada peralihan, tetapi campur bahasa)
Nababan (1984:32) mengatakan campur kode adalah suatu keadaan berbahasa dimana orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak tutur. Dalam campur kode penutur menyelipkan unsur-unsur bahasa lain ketika sedang memakai bahasa tertentu. Sebagai contoh si A berbahasa Indonesia. Kemudian ia berkata “sistem operasi komputer ini sangat lambat”. Lebih lanjut, Sumarsono (2004:202) menjelaskan kata-kata yang sudah mengalami proses adaptasi dalam suatu bahasa bukan lagi kata-kata yang mengalami gejala interfensi, bukan pula alih kode, apalagi campur kode. Dalam campur kode penutur secara sadar atau sengaja menggunakan unsur bahasa lain ketika sedang berbicara. Oleh karena itu, dalam bahasa tulisan, biasanya unsur-unsur tersebut ditunjukkan dengan menggunakan garis bawah atau cetak miring sebagai penjelasan bahwa si penulis menggunakannya secara sadar. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa campur kode merupakan penggunaan dua bahasa dalam satu kalimat atau tindak tutur secara sadar.




INTERFERENSI & INTEGRASI  BAHASA
Interferensi
Interferensi, menurut Nababan (1984), merupakan kekeliruan yang terjadi sebagai akibat terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa ibu atau dialek ke dalam bahasa atau dialek kedua. Senada dengan itu, Chaer dan Agustina (1995: 168) mengemukakan bahwa interferensi adalah peristiwa penyimpangan norma dari salah satu bahasa atau lebih.
Untuk memantapkan pemahaman mengenai pengertian interferensi, berikut ini akan diketengahkan pokok-pokok pikiran para ahli dibidang sisiolinguistik yang telah mendefinisikan peristiwa ini.
Menurut pendapat Chaer (1998:159) interferensi pertama kali digunakan oleh Weinrich untuk menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual. Interferensi mengacu pada adanya penyimpangan dalam menggunakan suatu bahasa dengan memasukkan sistem bahasa lain. Serpihan-serpihan klausa dari bahasa lain dalam suatu kalimat bahasa lain juga dapat dianggap sebagai peristiwa interferensi. Sedangkan, menurut Hartman dan Stonk dalam Chair (1998:160) interferensi terjadi sebagai akibat terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa ibu atau dialek ke dalam bahasa atau dialek kedua.
Abdulhayi (1985:8) mengacu pada pendapat Valdman (1966) merumuskan bahwa interferensi merupakan hambatan sebagai akibat adanya kebiasaan pemakai bahasa ibu (bahasa pertama) dalam penguasaan bahasa yang dipelajari (bahasa kedua). Sebagai konsekuensinya, terjadi transfer atau pemindahan unsur negatif dari bahasa ibu ke dalam bahasa sasaran.
Menurut Bawa (1981: 8), ada tiga ciri pokok perilaku atau sikap bahasa. Ketiga ciri pokok sikap bahasa itu adalah (1) language loyality, yaitu sikap loyalitas/ kesetiaan terhadap bahasa, (2) language pride, yaitu sikap kebanggaan terhadap bahasa, dan (3) awareness of the norm, yaitu sikap sadar adanya norma bahasa. Jika wawasan terhadap ketiga ciri pokok atau sikap bahasa itu kurang sempurna dimiliki seseorang, berarti penutur bahasa itu bersikap kurang positif terhadap keberadaan bahasanya. Kecenderungan itu dapat dipandang sebagai latar belakang munculnya interferensi.
Integrasi
Integrasi adalah penggunaan unsur bahasa lain secara sistematis seolah-olah merupakan bagian dari suatu bahasa tanpa disadari oleh pemakainya (Kridalaksana: 1993:84). Salah satu proses integrasi adalah peminjaman kata dari satu bahasa ke dalam bahasa lain.
Weinrich (1970:11) mengemukakan bahwa jika suatu unsur interferensi terjadi secara berulang-ulang dalam tuturan seseorang atau sekelompok orang sehingga semakin lama unsur itu  semakin diterima sebagai bagian dari sistem bahasa mereka, maka terjadilah integrasi. Dari pengertian ini dapat diartikan bahwa interferensi masih dalam proses, sedangkan integrasi sudah menetap dan diakui sebagai bagian dari bahasa penerima.
Berkaitan dengan hal tersebut, ukuran yang digunakan untuk menentukan keintegrasian suatu unsur serapan adalah kamus. Dalam hal ini, jika suatu unsur serapan atau interferensi sudah dicantumkan dalam kamus bahasa penerima, dapat dikatakan unsur itu sudah terintegrasi. Sebaliknya, jika unsur tersebut belum tercantum dalam kamus bahasa penerima unsur itu belum terintegrasi.
Dalam proses integrasi unsur serapan itu telah disesuaikan dengan sistem atau kaidah bahasa penyerapnya, sehingga tidak terasa lagi keasingannya. Penyesuaian bentuk unsur integrasi itu tidak selamanya terjadi begitu cepat, bisa saja berlangsung agak lama. Proses penyesuaian unsur integrasi akan lebih cepat apabila bahasa sumber dengan bahasa penyerapnya memiliki banyak persamaan dibandingkan unsur serapan yang berasal dari bahasa sumber yang sangat berbeda sistem dan kaidah-kaidahnya. Cepat lambatnya unsur serapan itu menyesuaikan diri terikat pula pada segi kadar kebutuhan bahasa penyerapnya. Sikap penutur bahasa penyerap merupakan faktor kunci dalam kaitan penyesuaian bentuk serapan itu. Jangka waktu  penyesuaian unsur integrasi tergantung pada tiga faktor antara lain (1) perbedaan dan persamaan sistem bahasa sumber dengan bahasa penyerapnya, (2) unsur serapan itu sendiri, apakah sangat dibutuhkan atau hanya sekedarnya sebagai pelengkap, dan (3) sikap bahasa pada penutur bahasa penyerapnya.

PERUBAHAN, PERGESERAN, PEMERTAHANAN BAHASA
Perubahan Bahasa
Perubahan bahasa lazin diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, entah kaidahnya itu direvisi , kaidahnya menghilang atau munculnya kaidah baru dan semuanya itu dapat terjadi pada semua tataran linguistik ; fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, maupun leksikon. Pada bahasa-bahasa yang mempunyai sejarah panjang tentu perubahan-perubahan itu sudah terjadi berangsur dan bertahap.
Pergeseran Bahasa
Chaer dan Agustina (2004:142) mengemukakan bahwa pergeseran bahasa menyangkut  masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain. Dengan kata lain, pergeseran bahasa akan terjadi kalau seorang atau sekelompok orang penutur pindah ke tempat lain yang menggunakan bahasa lain, dan bercampur dengan mereka. Pendatang atau kelompok pendatang ini mau tidak mau, harus menyesuaikan diri dengan “menanggalkan” bahasanya sendiri, lalu menggunakan bahasa penduduk setempat.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pergeseran bahasa itu terjadi manakala masyarakat pemakai memilih suatu bahasa baru untuk mengganti bahasa sebelumnya. Dengan kata lain, pergeseran bahasa itu terjadi karena masyarakat bahasa tertentu beralih ke bahasa lain, biasanya bahasa domain dan berprestise, lalu digunakan dalam ranah-ranah pemakaian bahasa yang lama.
Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahawa pergeseran bahasa terjadi pada masyarakat dwibahasa atau multibahasa. Kedwibahasaan menurut Umar (1994:9) dimulai ketika penduduk yang berpindah itu berkontak dengan penduduk pribumi lalu pihak yang satu mempelajari pihak lainnya untuk kebutuhan komunikasi.

Pemertahanan Bahasa
Diatas telah dijelaskan bahwa pergeseran bahasa terjadi perpindahan penduduk, ekonomi, sekolah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, terdapat pula masyarakat yang tetap mempertahankan bahasa pertamanya dalam berinteraksi dengan sesama mereka meskipun mereka adalah masyarakat minoritas.
Ketidakberdayaan sebuah bahasa minoritas untuk bertahan hidup itu mengikuti pola yang sama. Awalnya adalah kontak guyup minoritas dengan bahasa kedua (B2), sehingga mengenal dua bahasa dan menjadi dwibahasawan, kemudian terjadilah persaingan dalam penggunaannya dan akhirnya bahasa asli (B1) bergeser atau punah. Sebagai contoh kajian semacam itu dilakukan oleh Gal (1979) di Australia dan Dorial (1981) di Inggris. Keduanya tidak berbicara tentang bahasa imigran melainkan tentang bahasa pertama (B1) yang cenderung bergeser dan digantikan oleh bahasa baru (B2) dalam wilayah mereka sendiri.
Menurut Sumarsono dalam laporan penelitiannya mengenai pemertahanan penggunaan bahasa Melayu Loloan di desa Loloan yang termasuk dalam wilayah kota Nagara, Bali  (dikutip Chaer dan Agustina, 2004:147), ada beberapa faktor yang menyebabkan bahasa itu dapat bertahan, yaitu: pertama, wilayah pemukiman mereka terkonsentrasi pada satu tempat yang secara geografis agak terpisah dari wilayah pemukiman masyarakat Bali.  Kedua, adanya toleransi dari masyarakat mayoritas Bali yang mau menggunakan bahasa Melayu Loloan dalam berinteraksi dengan golongan minoritas Loloan, meskipun dalam interaksi itu kadang-kadang digunakan juga bahasa Bali. Ketiga, anggota masyarakat Loloan, mempunyai sikap keislaman yang tidak akomodatif terhadap masyarakat, budaya, dan bahasa Bali. Pandangan seperti ini dan ditambah dengan terkonsentrasinya masyarakat Loloan ini  menyebabkan minimnya interaksi fisik antara masyarakat Loloan yang minoritas dan masyarakat Bali yang Mayoritas. Akibatnya pula menjadi tidak digunakannya bahasa Bali dalam interaksi  intrakelompok dalam masyarakat Loloan. Keempat, adanya loyalitas yang tinggi dari anggota masyarakat Loloan terhadap bahasa Melayu Loloan sebagai konsekuensi kedudukan atau status bahasa ini yang menjadi lambang identitas diri masyarakat Loloan yang beragama Islam; sedangkan bahasa Bali dianggap sebagai lambang identitas dari masyarakat Bali yang beragama Hindu. Oleh karena itu, penggunaan bahasa Bali ditolak untuk kegiatan-kegiatan intrakelompok, terutama dalam ranah agama. Kelima, adanya kesinambungan pengalihan bahasa Melayu Loloan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya.


BAB VII
PSIKOLINGUISTIK

PENGERTIAN PSIKOLINGUISTIK.
Psikolinguistik berasal dari dua kata yakni psikologi dan linguistik, dua kata tersebut masing-masing merujuk pada nama sebuah disiplin ilmu.
Secara umum psikologi sering didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia dengan cara mengkaji hakikat stimulus, hakikat respon, dan hakikat proses-proses pikiran sebelum stimulus atau respon itu terjadi
Secara umum dan luas linguistik merupakan suatu ilmu yang mengkaji tentang bahasa
Psikolinguistik merupakan ilmu yang menguraikan proses-proses psikologis yang terjadi apabila seseorang menghasilkan kalimat dan memahami kalimat yang didengarnya waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh manusia
           Dari definisi -definisi diatas dapat disimpimpulkan bahwa psikolinguistikk adalah ilmu yang menguraikan proses psikologis yang terjadi ketika manusia berbahasa, memahami bahasa, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh.
TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN PSIKOLINGUISTIK :
 Tahap formatif .
       Pertengahan abad ke-20 John W. Gardner seorang psikolog amerika mulai menggagas hibridasi (penggabungan) psikologi dan linguistik . Tahun 1951 John B. Carrol menyelenggarakan seminar di Universitas Cornell, pertemuan dilanjutkan pada tahun 1953 di Universitas Indiana hasil pertemuan ini mengawali banyak penelitian yang kemudian dilakukan lebih terarah pada kedua ilmu ini, pada saat itulah psycholinguistics pertama kali dipakai.
Tahap Linguistik.
Pada tahap ini mengarah pada pemerolehan bahasa. Bahasa telah kita peroleh mulai dari sebelum kita dilahirkan (janin), bahasa yang digunakan oleh ibu dan orang di sekitarnya mulai masuk dan terekam dalam memory janin. Pada tahap ini psikolingustik sebagai ilmu yang mulai banyak diminati orang.
Tahap Kognitif
       Pada tahap ini psikolinguistik mulai mengarah pada peran kognisi dan landasan biologis manusia dalam pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan pada prinsip-prinsip kognitif. Pada tahap ini orang juga mulai berbicara tentang peran biologi pada bahasa karena mereka mulai merasa bahwa bilogi merupakan landasan dimana bahasa itu tumbuh.
Tahap Teori Psikolinguistik
Pada tahap akhir ini, psikologi tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lain karena pemerolehan dan penggunaan bahasa manusia menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan yang lain. Psikolinguistik tidak lagi terdiri dari psikologi dan linguistik saja tetapi juga menyangkut ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi dan genetika.
TAHAP-TAHAP PROSES PSIKOLOGIS DAN LINGUISTIK :
Tahap formatif : Tahap bagaimana otak mulai merespon adanya stimulus.
Tahap linguistik : Tahap mulai berbahasa secara tidak utuh atau belum dapat dipahami.
Tahap kognitif : Tahap dimana anak mulai memahami apa yang diujarkan
Pemerolehan bahasa :  Tahap dimana anak mulai menggunakan bahasa pertamanya atau bahasa
Perbedaan  ibunya
PEMBELAJARAN BAHASA DENGAN PEMEROLEHAN BAHASA
Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang anak mempelajari bahasa kedua setelah memperoleh bahasa pertamanya.
Pemerolehan bahasa berkenaan dengan proses yang berlangsung dalam otak manusia ketika memperoleh bahasa pertamanya.
        Jadi pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua.
      Psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari  proses-proses mental yang dilalui oleh manusia.
Hal-  hal yang dipelajari dalam psikolinguistik :
Komprehensi : yakni proses mental yang dilalui manusia sehingga mereka dapat menangkap apa yang dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud.
Produksi ujaran : yakni proses mental pada diri kita yang membuat kita dapat berujar seperti yang kita ujarkan.
Landasan biologis serta neurologis : yakni landasan yang membuat manusia berbahasa.
Pemerolehan bahasa : yakni bagaimana seorang anak bisa memperoleh bahasa mereka.

Komprehensi
        Komprehensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana pendengar mempresepsi bunyi yang dikeluarkan oleh seorang pembicara dan memakai bunyi-bunyi itu untuk membentuk suatu interpretasi tentang apa yang dimaksud oleh pembicara. Secara mudah, komprehensi adalah pembentukan makna dari bunyi.
Struktur batin dan struktur lahir.
            Dalam kebanyakan hal makna suatu ujaran dapat dipahami dari urutan kata yang terdapat pada ujaran atau ciri-ciri tertentu masing-masing kata yang di pakai.
Misal : (1) Lelaki tua itu masih dapat bermain tenis
Dapat dipahami cukup dari urutan kata-kata yang terdengar atau terlihat oleh kita. Interpretasi dari kalimat ini memiliki makna yang sama, yakni, adanya seorang lelaki, lelaki itu tua, dia dari dulu sampai sekarang bermain sesuatu, dan sesuatu itu adalah tenis.
Pada kasus lain tidak mustahil suatu kalimat yang tampak sederhana tetapi memiliki makna yang rumit
Misal : (2) Lelaki dan wanita tua itu masih dapat bermain tenis
Kita tidak yakin apakah lelaki itu juga tua seperti si wanita atau hanya wanitanya saja yang tua sedangkan lelakinya tidak. Interpretasi ini muncul karena adjektiva tua dapat berfungsi hanya pada nomina wanita saja atau pada frase lelaki dan wanita.
Proporsi
 Proporsi dapat didefinisikan sebagai unit-unit makna. proporsi terdiri dua bagian: (a)          argumen, yakni, ihwal-ihwal yang dibicarakan, dan (b) predikasi, yakni, pernyataan yang dibuat mengenai argumen
 Contoh :  (6) a. Sulaeman menyanyi
                        b. Santi sakit
                        c. Dewi sedang menulis
        Pada contoh (6) menyanyi, sakit, sedang menulis adalah predikasi, sedangkan  Sulaeman,   Santi, Dewi adalah argument. Proposisi pada (6a) mempredikasi kegiatan menyanyi oleh Sulaeman; pada (6b) mempredikati keadaan sakit si Santi; pada (6c) mempredikati kegiatan menulis oleh Dewi.
2. Produksi.
        Langkah umum memproduksi ujaran. Proses dalam ujaran dibagi menjadi  4 :
Tingkat pesan
Tingkat fungsional
Tingkat posisional
Tingkat fonologi
        Pada tingkat pesan, pesan yang disampaikan akan diproses. Pada tingkat ini pembicara akan mengumpulkan nosi-nosi dari makna yang ingin disampaikan.
       Contoh : Tutiek sedang menyuapi anaknya
        Nosi-nosi  yang ada pada benak pembicara antara lain (a) ada seseorang (b) seseorang ini wanita (c) dia sudah menikah (d) dia punya anak (e) dia sedang melakukan suatu perbuatan (f) perbuatan itu adalah memberi  makan anaknya.
       Pada tingkat fungsional, memberikan fungsi pada kata-kata yang telah dipilih. Ada dua proses disini, yang pertama memilih bentuk leksikal sesuai dengan pesan yang akan disampaikan dan informasi gramatikal untuk masing-masing leksikal tersebut.  Misalnya : Dari sekian orang dan wanita yang dia kenal, wanita itu adalah Tutiek, kata ini adalah nama perempuan. Perbuatan yang dilakukan diwakili oleh verba dasar yaitu suap, berada di antara 2 argumen yakni Tutiek dan anaknya. Tutiek adalah pelaku perbuatan,  sedangkan anaknya adalah penerima perbuatan Tutiek tadi. Pada tingkat fungsional ini pula memberikan fungsi pada kata-kata yang telah dipilih, pada contoh diatas kata Tutiek harus dikaitkan dengan fungsi subjek , sedangkan anaknya adalah objek.
        Pada tingkat posisional, pada tingkat ini diurutkan bentuk leksikan untuk ujaran yang dikeluarkan. Pengurutan ini berdasarkan kesatuan makna yang hierarkis.
 Contoh : Kata sedang bertaut dengan menyuapi , bukan  dengan Tutiek. Begitu juga –nya bertaut dengan anak, dan bukan dengan Tutiek atau menyuapi.
        Pada tingkat fonologi, hasil dari pemrosesan posisional dikirim ke tingkat fonologi yang diwujudkan dalam bentuk bunyi. Pada tahap ini aturan fonotaktik bahasa yang bersangkutan diterapkan. Seperti : kata Tutiek mengikuti aturan fonotaktik Bahasa Indonesia sedangkan Ktuiek tidak, kata ini tentu akan ditolak begitu pula vocal /u/ dan /i/ harus berurutan seperti itu karena kalau dibalik menjadi Tietuk dan referensinya akan lain.
Landasan biologis serta neurologis yang membuat manusia berbahasa.
Landasan biologis.
              Secara proporsional rongga mulut manusia adalah kecil. Ukuran ini yang membuat   manusia lebih mudah mengatur bunyi atau suara. Lidah manusia secara proporsional lebih tebal dari lidah binatang dan sedikit menjorok ke tenggorokan memungkinkan diturunkan atau diratakan di tengah . Posisi lidah yang bermacam-macam menghasilkan bunyi vokal yang bermacam-macam pula. Gigi manusia yang jaraknya rapat, tingginya rata, dan tidak miring ke depan membuat udara yang keluar dari mulut lebih mudah diatur. Begitu pula bibir manusia lebih dapat digerakkan dengan fleksibel akan menghasilkan bunyi tertentu, /m/,/p/,/b/, tetapi bila bibir bawah ditarik ke belakang dan menempel pada ujung gigi akan terciptalah bunyi lain /f/,/v/.
Landasan neurologis.
       Otak manusia ukuran beratnya adalah antara 1-1,5 Kg dengan berat rata-rata 1330 gram. Berat otak ini hanya 20% dari berat badan manusia, akan tetapi menyedot 15% dari seluruh peredaran darah dari jantung dan memerlukan 20% dari sumberdaya metabolic manusia. Oleh karena itu memerlukan perhatian khusus dari badan kita. Sistem syaraf kita terdiri dari (a) sederet tulang punggung yang bersambung-sambungan (Spinal Cord) dan (b) otak. Otak itu sendiri terdiri dari dua bagian (i) batang otak (Brain Stem) dan (ii) korteks serebral (Cerebral Cortex). Korteks serebral merupakan sistem syaraf yang mengendalikan segala ihwal-ihwal yang dilakukan manusiabaik berupa fisik maupun mental. Korteks serebral juga menangani fungsi-fungsi intelektual dan bahasa .

Pemerolehan bahasa.
     Pemerolehan bahasa (akuisisi bahasa) merupakan proses pertama yang berlangsumg dalam otak manusia ketika dia memperoleh bahasa pertamanya (bahasa yang pertama kali diucapkan oleh anak) atau bahasa ibunya.
Ada 4 tahap pemerolehan bahasa pada anak  :
Pemerolehan fonologi.
Seorang anak mulai menggunakan bunyi-bunyi yang telah dipelajari dengan bunyi-bunyi yang belum dipelajari
Misalnya : menggantikan huruf /l/ yang sudah dipelajari dengan huruf /r/ yang belum dipelajari  dan mengganti huruf /b/ yang sudah dipelajari dengan huruf /f/ yang belum dipelajari.
Pemerolehan morfologi.
Pada usia 3 tahun anak sudah membentuk beberapa morfem yang menunjukkan fungsi gramatikal nomina dan verba yang digunakan. Kesalahan gramatikal sering terjadi pada tahap ini karena anak masih berusaha mengatakan apa yang ingin disampaikan, anak terus memperbaiki bahasanya hingga usia sepuluh tahun.
Pemerolehan sintaksis.
Anak mengembangkan tingkat gramatikal kalimat yang dihasilkan melalui beberapa tahap yaitu peniruan, melalui penggolongan morfem dan penyusunan dengan cara menempatkan kata-kata secara bersama-sama hingga membentuk kalimat.
 Pemerolehan semantik.
Anak menggunakan kata-kata tertentu berdasarkan kesamaan gerak, ukuran, dan bentuk. Misalnya : anak mulai mengetahui makna kata jam. Awalnya anak hanya mengacu pada jam tangan orang tuanya namun kemudian dia memakai kata tersebut untuk semua jenis jam.

BAB VIII
PRAGMATIK

SEJARAH PRAGMATIK DI DUNIA
Istilah pragmatik sebenarnya sudah dikenal sejak masa hidupnya seorang filsuf terkenal bernama Charles Morris. Dalam memunculkan istilah pragmatika, Morris mendasarkan pemikirannya pada gagasan filsuf-filsuf pendahuluannya. Seperti Charles Sanders Pierce dan John Locke yang banyak menggeluti ilmu lambang semasa hidupnya. Dengan mendasarkan pada gagasan filsuf itu, Charles Morris membagi ilmu tanda ilmu lambang itu ke dalam tiga cabang ilmu, yakni :
Sintaktita  (syntactic) ”studi relasi formal tanda-tanda”
Semantika (semantics) ”studi relasi tanda-tanda dengan objeknya”
Pragmatika (pragmatics ”studi relasi antara tanda-tanda dengan penafsirannya”
Pada mulanya pragmatik lebih banyak diperlakukan sebagai keranjang tempat penyimpanan data yang tidak terjelaskan, yaitu data bahasa dalam komunikasi yang berkaitan dengan makna. Namun secara bertahap telah timbul kesadaran tertentu di dunia linguistik yaitu bahwa makna dapat diteliti dan dipahami. Secara ringkas sejarah pragmatik adalah sebagai berikut :
Bagi generasi Bloomfield linguistik berarti fonetik dan fonemik. Mereka menganggap sintaksis terlalu abstrak untuk dapat diteliti dan dipahami
Sikap dan pandangan generasi Bloomfield berubah pada akhir tahun 1950-an Chomsky menemukan titik pusat sintaksis (sintaksis mulai diteliti dan dipahami)
Permulaan tahun 1960 (perkembangan linguistik meningkat) Katz dan kawan-kawan menemukan cara memasukkan makna ke dalam teori linguistik yang formal.
Tahun 1971 Lakoff dan lain-lainnya beragumentasi bahwa sintaksis tidak dapat dipisahkan dari studi penggunaan bahasa.


PENGERTIAN PRAGMATIK
Menurut Abdul Chaer (2010:23) pragmatik adalah ilmu yang mengkaji bagaimana satuan-satuan bahasa itu digunakan dalam pertuturan dalam rangka melaksanakan komunikasi. Seringkali kita dapati satu-satuan bahasa yang disajikan dalam gramatikal tidak sama ‘maknanya’ dengan kalau satuan bahasa itu digunakan dalam pertuturan.
Contoh aplikasi pragmatik dalam kehidupan sehari-hari, berikut pertuturan antara (A) yang menjadi penutur dengan (B) yang menjadi lawan tutur :
(A)      : Punya korek?
(B)      : Punya nih. (B mengeluarkan korek dan memberikan kepada A)
Secara gramatikal pernyataan (A) kepada (B) hanyalah (A) ingin tahu apakah (B) punya korek atau tidak, tetapi secara pragmatik mengandung pengertian bahwa (A) ingin meminjam korek untuk menyulut rokoknya. Pengertian yang terkandung di dalam ujaran dalam kajian pragmatic disebut “maksud”, bukan makna. Jadi secara pragmatik pertanyaan (A) kepada (B) itu bukan berisi makna, melainkan berisi maksud. Dalam contoh diatas (A) telah mengetahui maksud dari (A) sehingga selain menjawab pertanyaan dan mengelurakan korek.
Contoh aplikasi lain, terjadi pada suatu pagi (A) adalah seorang suami dan (B) adalah seorang istri.
(A) : Bu, sudah hampir pukul tujuh.
(B)  : Iya Pak. Sarapan juga sudah siap.
Secara gramatikal ucapan (A) adalah bahwa (A)  memberi tahu istrinya (B) bahwa hari sudah hampir pukul tujuh. Sedangkan secara pragmatik ucapan (A) itu bermaksud memberi tahu bahwa (A) harus segera berangkat ke kantor dan sarapan.
Karena pragmatik mengkaji maksud ujaran dan bukan makna ujaran, maka ada pakar yang mengatakan bahwa pragmatik adalah telaah mengenai hubungan antara lambang dengan penafsiran. Poerwo (dalam Abdul Chaer 2010:24). Yang dimaksud dengan lambang disini adalah satuan ujaran, entah berupa satu kalimat atau lebih yang membawa pengertian seperti yang dimaksud oleh penutur maupun lawan tutur. Dalam hal ini Parker (dalam Abdul Chaer 2010:24) menyatakan bahwa semantik dan pragmantik sama-sama cabang ilmu bahasa yang menelaah makna-makna satuan bahasa. Hanya bedanya, semantik mempelajari makna secara internal sedangkan pragmantik mempelajari makna secara eksternal. Secara internal artinya mempelajari makna yang secara inheren terdapat di dalam satuan bahasa itu. Lalu, secara eksternal berarti “makna” yang berada di luar satuan bahasa itu, yaitu yang disebut maksud.
Dengan kata lain, makna yang dikaji oleh semantic dapat dirumuskan dengan pertanyaan “apa makna x itu?” (what does x mean?). Sedangkan yang dikaji oleh pragmatik dapat dirumuskan dengan pertanyaan “apa yang anda maksud dengan berkata x itu?” (what do you mean by x?).
Jadi, pragmatik mengacu pada kajian penggunaan bahasa yang berdasarkan pada konteks. Bidang kajian pragmatik secara umum meliputi tindak tutur (speech act), deiksis (dexis), praanggapan (presupposition), dan implikatur percakapan (conversational inplicature).

BIDANG KAJIAN PRAGMATIK
Tindak Tutur
Teori tindak tutur di kemukakan oleh dua orang ahli filsafat bahasa yang bernama John Austin dan John Searle pada tahun 1960-an. Menurut teori tersebut, setiap kali pembicara mengucapkan suatu kalimat, Ia sedang berupaya mengerjakan sesuatu dengan kata-kata (dalam kalimat) itu. Menurut istilah Austin (dalam Nababan, 2012: 1), “ By saying something we do something”.
Tindak tutur adalah tuturan dari seseorang yang bersifat psikologis dan yang dilihat dari makna tindakan dalam tuturannya itu. Serangkaian tindak tutur akan membentuk suatu persitiwa tutur (speech event). Lalu, tindak tutur dan peristiwa tutur ini menjadi dua gejala yang terdapat pada satu proses, yakni proses komunikasi.
Contoh aplikasinya :
Saya minta maaf atas kenakalan anak saya ini
Dengan mengucapkan “bismilah” acara seminar saya buka.
Dari kedua contoh diatas selain mengatakan sesuatu juga menyatakan adanya perbuatan atau tindakan. Kalimat (a) juga menyatakan melakukan tindakan yaitu meminta maaf. Begitu juga dengan kalimat (b) selain mengatakan sesuatu, juga menyatakan melakukan tindakan yaitu membuka acara seminar.
Kalimat atau tuturan yang selain mengatakan ssesuatu juga menyatakan adanya perbuatan atau tindakan dalam kajian pragmatik disebut kalimat performatif atau tuturan performatif, seperti contoh diatas. Sedangkan tuturan yang hanya mengatakan sesuatu saja disebut kalimat atau tuturan konstantif, contohnya “Monumen Nasional tingginya 125 meter.”
Tindak tutur yang dilakukan dalam bentuk kalimat performatif oleh Austin (1962) dirumuskan sebagai sebuah tindakan yang berbeda yaitu :
Tindak tutur lokusi
Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu sebagaimana adanya atau the act of saying something tindakan untuk mengatakan sesuatu. Contoh :
Tahun 2004 gempa dan tsunami melanda Banda Aceh.
Kalimat diatas dituturkan oleh seseorang penutur semata-mata hanya untuk memberikan informasi sesuatu belaka.
Tindak tutur ilokusi
Tindak tutur ilokusi selain menyatakan sesuatu juga menyatakan tindakan melakukan sesuatu. Disebut juga The act doing something (tindak melakukan sesuatu).
Contoh :
Ujian Nasional sudah dekat.
Jika kalimat diatas dituturkan oleh seorang guru, bukan hanya berisi informasi tetapi menyuruh muridnya untuk semakin giat belajar karena ujian nasional sudah dekat dan agar lulus ujian nasional.
Tindak tutur perlokusi
Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang mempunyai pengaruh atau efek terhadap lawan tutur atau orang yang mendengar tuturan itu. Maka tindak tutur perlokasi sering disebut The act of affective someone (tindak yang memberi efek pada orang lain).
Contoh :
Minggu lalu saya ada keperluan keluarga yang tidak dapat ditinggalkan.
Kalimat diatas selain memberi informasi bahwa si penutur pada minggu lalu ada kegiatan di keluarga, juga bila dituturkan pada lawan tutur yang pada minggu lalu mengundang untuk hadir pada resepsi pernikahan, bermaksud juga meminta maaf. Lalu efek yang diharapkan adalah agar si lawan tutur memberi maaf kepada si penutur.

Deiksis
Deiksis adalah kata atau kata-kata yang dirujukannya tidak tetap. Dapat berpindah dari satu waktu ke waktu yang lain. Kata-kata yang deiksis ini adalah kata-kata yang menyatakan waktu, tempat, dan yang berupa kata ganti.
Contoh
Sebagai saksi dia akan diperiksa besok.
(percakapan telepon antara A di Caheum dan B di Ledeng)
Kata besok pada contoh (a) adalah deiksis karena jika sekarang hari Senin  besok Selasa, jika hari ini Selasa maka besok Rabu dan seterusnya.

Praanggapan
Praanggapan atau presuposisi adalah “pengetahuan” bersama yang dimiliki oleh penutur atau lawan tutur yang melatarbelakangi suatu tindak tutur.
Contoh aplikasinya pertuturan antara A dan B :
A : Anakmu yang bungsu sudah kelas berapa?
B : Baru kelas dua SD.
Dalam pertuturan diatas ada pengetahuan bersama yang dimiliki A dan B bahwa B memiliki anak lebih seorang, karena ada tuturan yang bungsu berarti ada yang sulung. Juga ada pengetahuan bersama bahwa anak-anak B sudah bersekolah. Tanpa pengetahuan itu tentu A tidak dapat mengajukan pertanyaan seperti itu, dan B tidak dapat menjawab seperti itu juga. Andaikata A hanya memiliki pengetahuan bahwa B sudah mempunyai anak dan tidak punya pengetahuan bahwa anak B sudah bersekolah A bisa bertanya dengan tuturan “Anakmu sudah sekolah belum?”.

Implikatur Percakapan
Implikatur atau implikatur percakapan adalah adanya keterkaitan antara ujaran dari seorang penutur dan lawan tuturnya. Namun, keterkaitan itu tidak tampak secara literal, tetapi dapat dipahami secara tersirat. Dengan kata lain, implikatur adalah maksud, keinginan, atau ungkapan-ungkapan hati yang tersembunyi
Contoh aplikasi dalam kehidupan, yaitu :
A : Wah panas sekali sore ini. Kamu kok tidak berkeringat. Apa tidak kegerahan?
B : Tidak! Aku sudah mandi tadi.
Kalimat jawaban B “aku sudah mandi tadi” secara literal tidak mempunyai sangkut paut dengan kalimat pertanyaan dari B “Apakah tidak kegerahan?”. Namun secara tersirat jawaban itu menyatakan bahwa B tidak kegerahan karena dia sudah mandi, dan bagi siapa pun yang sudah mandi pasti tidak gerah lagi.

Prinsip Kerja Sama dalam Pertuturan
Pertuturan akan berlangsung dengan baik apabila penutur dan lawan tutur dalam pertuturan itu menaati prinsip-prinsip kerja sama seperti dikemukakan oleh Gries (1975: 45-47). Dalam kajian pragmatik prinsip tersebut disebut maksim, yakni berupa pernyataan ringkas yang mengandung ajaran atau kebenaran. Setiap penutur harus menaati empat maksim kerjasama, yaitu maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksi cara (maxim of manner). Berikut penjelasannya.
a. Maksim kuantitas
Maksim kuantitas menghendaki setiap peserta tutur hanya memberikan kontribusi yang secukupnya saja atau sebanyaknya yang dibutuhkan oleh lawannya. Jadi, jangan berlebihan.
Contoh :
Ayam saya telah berrtelur.
Ayam saya yang betina telah bertelur
Dari cotoh diatas, contoh (1) telah menaati maksim sedangkan (2) tidak menaati maksim karena terdapat yang betina yang tidak perlu. Semua ayam yang bertelur pasti yang betina.
b. Maksim kualitas
Maksim ini menghendaki agar peserta pertuturan itu mengatakan hal yang sebenarnya, hal yang sesuai dengan data dan fakta. Kecuali barangkali kalau memang tidak tahu. Contohnya :
A : Coba kamu Ahmad, kota Makassar ada dimana?
B : Ada di Sulawesi Selatan, Pak.
Contoh diatas sudah menaati maksim kualitas karena kata Makassar memang berada di Sulawesi Selatan.
c. Maksim relevansi
Maksim ini mengharuskan setiap peserta pertuturan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah atau tajuk pertuturan. Contohnya :
A : Bu, ada telepon untuk ibu!
B : Ibu sedang di kamar mandi, Nak.
Sepintas jawaban B tidak berhubungan. Namun jika disimak baik-baik  itu ada. Jawaban B mengimplikasikan bahwa B tidak bisa menerima telepon secara langsung karena sedang berada di kamar mandi.


d. Maksim cara
Maksim ini mengharuskan penutur dan lawan tutur berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak ambigu, tidak berlebih-lebihan dan runtut
Contoh yang belum memenuhi maksim :
A : Kamu datang kesini mau apa?
B : mau mengambil hak saya.
Contoh diatas bersifat ambigu, karena kata hak saya bisa mengacu pada hak sepatu atau bisa juga pada sesuatu yang menjadi miliknya.

HUBUNGAN PRAGMATIK DENGAN KONSENTRASI BAHASA
Tarigan (1980:2) menyatakan “keterampilan berbahasa  mencakup empat segi, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.” Yule (2006:5) menyatakan “manfaat belajar bahasa melalui pragmatik ialah bahwa seseorang dapat  bertutur kata tentang makna yang  dimaksudkan orang, asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka, dan  jenis-jenis tindakan yang mereka perlihatkan, ketika mereka berbicara.”
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas  dapat disimpulkan bahwa  keempat keterampilan berbahasa itu saling berhubungan, selain itu keterampilan berbahasa juga sangat diperlukan oleh seseorang, karena bila seseorang menguasai keempat keterampilan berbahasa  maka orang itu dapat berkomunikasi dengan baik.
Melihat penjelasan dalam landasan teoretis ternyata pengertian pragmatik  berdasarkan para ahli itu berbeda namun pada dasarnya mempunyai maksud yang sama  yaitu menelaah suatu makna ujaran berdasarkan konteks dan situasi pragmatik juga mempunyai keterkaiitan dengan sosialinguistik wacana, pembelajaran komunikatif, semantik, dan keterampilan berbahasa.
Kemampuan ini harus diterapkan dalam kegiatan berbahasa. Kegiatan berbahasa akan berlangsung kominikatif apabila telah menguasai empat keterampilan berbahasa seperti yang dikemukakan oleh Tarigan. Jadi antara keterampilan berbahasa dengan pragmatik saling berhubungan seperti, seseorang tidak akan bisa menjadi seorang penyimak yang baik apabila tidak dapat menafsirkan makna lisan maupun makna  tulisan. Begitu pula ketika seseorang sedang melakukan kegiatan membaca, dia harus mampu menafsirkan makna suatu bacaan baik yang tersirat maupun tersurat. Untuk kegiatan menulis, ketika seseorang melakukan kegiatan menulis ia harus dapat merangkaikan makna yang terkandung dalam suatu tata sehingga membentuk suatau makna. Selain itu, ketika seseorang berbicara di depan umum harus dapat mengerti, masksudnya perkataan yang disampaikan harus memiliki makna. Jadi antara keterampilan berbahasa dengan pragmatik merupakn pengetahuan secara linguistik yang dimiliki seseorang yang diwujudkan dalam empat keterampilan berbahasa tersebut.
BAB IX
STILISTIKA

PENGERTIAN STLISTIKA
Berbagai pengertian stilistika telah dirumuskan oleh ahli sastra dan linguistik. Pengertian stilistika secara sederhana dan luas diurai di bawah ini.
Istilah Stilistika berasal dari istilah Stylistics dalam bahasa Inggris. Istilah stilistika atau stylistics terdiri dari dua kata Style dan Ics. Stylist adalah pengarang atau pembicara yang baik gaya bahasanya, perancang atau ahli dalam mode. Ics atau ika adalah ilmu, kaji, telaah. Stilistika adalah ilmugaya atau ilmu gaya bahasa.
“Leech dan Short (1984 : 13)” menyatakan bahwa stilistika yaitu studi tentang wujud formansi kebahasaan, khususnya yang terdapat dalam karya sastra, jadi :
ilmu tentang gaya bahasa
interdispleuner antara linguistik dan sastra
ilmu tentang penerapan kaidah kaidah linguistik dalam penelitian gaya bahasa
ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra
ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra dengan mempertimbangkan
aspek aspek keindahannya sekaligus latar belakang sosialnya.
Dalam beberapa kamus umum dan istilah pengertian stilistika itu sama atau hampir bersamaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988:859), stilistika, ilmu tentang penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. Dalam Kamus Dewan (1996:1305), Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Stilistik:
1) Kajian tentang penggunaan gaya bahasa secara berkesan dalam penulisan.
2) Berkaitan dengan Stail atau gaya, terutama gaya bahasa penulisan.
Dalam Bunga Rampai Stilistika, Sudjiman ( 1993:3) berpengertianbahwa stilistika adalah mengkaji wacana sastra dengan orientasi lingusitik. Stilistika mengkaji cara sastrawan memanipulasi memanfaatkan unsur dan kaidah yang terdapat dalam bahasa dan efek yang ditimbulkan oleh penggunaannya itu. Stilistika meneliti ciri khas penggunaan bahasa dalam wacana sastra, ciri-ciri yang membedakan atau mempertimbangkan dengan wacana non sastra, meneliti derivasi terhadap tata bahasa sebagai sarana literatur, singkatnya stilistika meneliti sastra fungsi fuitik suatu bahasa.
Obyek Kajian
Aspek yang dikaji dari Stilistika :
Intonasi, bunyi, kata, dan kalimat sehingga lahirlah objek kajian stilistika peribahasa (kalimat yang memiliki efek konototif yang digunakan dalam bentuk
Bidal Bahasa : Sebagai pemanis percakapan atau kalimat dalam tulisan
Contoh : Angin bertiup sepoi-sepoi, Beban sudah dipintu, Telaga dibawah gunung
Pepatah (Pematah) : Peribahasa yang digunakan dalam percakapan untuk mematahkan
\perkataan lawan sehingga ia berhenti atau memahami dan menyadari kesalahannya
Amsal (Perumpamaan (bahasa arab) : peribahasa yang memiliki susunan kata
Petitih (hadis melayu) : peribahasa yang mengandung nasihat atau pelajaran tentang kehidupan manusia. Contoh : Datang nampak muka, pergi nampak punggung
Kalimat Bersayap (kata-kata Mutiara)
      Susunan kata yang mengandung firman, falsafah.
Ungkapan
Hasil rangkaian dua kata atau lebih untuk menyatakan suatu maksud
Contoh : Cari muka

Nilai Kata
Nilai rasa kata yang menimbulkan pengertian khusus dan bersifat gaya bahasa
Nilai rendah Nilai tinggi
     (Bahasa ilmiah)           (Bahasa sastra)
Tidak ada semangat                                                                   * Rapuh
Badan                             *   tubuh
Cacian * serapah

SEJARAH STILISTIKA
Dewasa ini, stilistika telah menjadi sebuah cabang ilmu, yang berasal dariinterdisipliner linguistik dan sastra. Sebelumnya, stilistika belum dikaji secara ilmiah. Dengan demikian sesungguhnya sudah sejak lama ditelaash. Di bawah ini diuraikan sejarah stilistika di Barat dan Indonesia Sejak zaman Plato (427-317 SM) dan Aristoteles (384-322 SM) sesungguhnya telah ada kajian linguistik tentang proses proaktif dalam kesusastraan. Zaman Plato dan Aristoteles mungkin terlalu jauh dari zaman kita.
Pada 1916 telah terbit sebuah kata hasil kerjasama sastrawan dan bahasa berakhiran Formolisme Rusia judul buku itu, The Studi In Theory of Puitics Language. Pada 1923 Roman Jakobsan menulis tentang puisi Ceko yang menerapkan kriteria semantik modern dalam pengkajian struktur dan pola puisi.
Pada 1957, Chomsky membuka pandangan baru dalam linguistik dalam penerbitan bukunya Syntactic Structures. Kesusastraan merasakan dampak pandangan baru itu.
Pada awalnya, sastrawan dan kritikus sastra memungsikan manfaat pengkajian linguistik terhadap karya sastra. Berbagai anggapan pengkajian demikian akan merusak keindahan seni karya sastra itu.
Semakin lama semakin disadari bahwa pendekatan linguistik merupakan salah satu pendekatan yang dapat ditempuh untuk menemukan makna karya sastra. Analisis stilistika berupaya mengganti subyektif dan impressionisme yang digunakan kritikus sastra sebagai pedoman dalam mengkaji karya sastra dengan suatu pengkajian yang relatif lebih obyektif dan ilmiah.
Pada 1973, terbit Stylistics, G.Tunner Harmsondworth, Penguin Books. Pada 1980, terbit buku Linguistics; for Students of Literatur A Stylistics Introduction of the study of Literatur Pergamo Fustitut of English, Oxford of Michael Cumming dan Robert Simon pada 1985, terbit Stylistics and Teaching of Literature.
Di Malaysia, stilistika juga mengalami perkembangan. Pada 1966, Yunus telah banyak menulis makalah stilistika. Ia termasuk pakar stilistika, di samping Mohammad Yusof Hasan dan Shahran Ahmad, makalah Yunus telah dibukakan dengan judul Dari Kata ke Ideologi: Fajar Bakti, Petalung Jaya 1985.
Pada 1979 Mangantar Simanjuntak juga mulai membahas stilistika. Makalahnya berjudul Aplikasi Linguistik dalam Pengkajian dan Penulisan Karya Sastra. Ia menganalis teks sastra berdasarkan teori linguistik Transformatif Generatif. Pada saat yang sama mana Si Kana (Keris Emas), menulis makalah Kaktus-Kaktus Kemasan Safe Pengandaan Stilistika.
Pada 1980, persatuan Linguistik Malaysia mengadakan seminar bahasadan sastra. Pada 1982 makalahnya dibukukan dengan judul Stilistika- Simposium Keindahan Bahasa yang disunting oleh Prof. Farid Onn. Penyumbang makalah adalah Prof. Farid Onn, Dr. Nik Safiah Karim, Awang Sariyah, Dr Mangantar Simanjuntak, Dr. Dahnil Adnani, Abdul Rahman Napiah, Hashim Awang, Prof. Kamal Hasan, dan Lutfi Abas. (Abas, 1990:25).
Pada 1985, jurusan Linguistik, jabatan pengkajian Melayu, Universiti, Melayu telah mengadakan satu langkah yang dinamakan Bengkel Stilistik. Dalam bengkel ini, beberapa makalah membahas aspek stilistika atau gaya bahas. Makalah-makalah telah diterbitkan dengan judul Stilistik: Pendekatan dan Penerapan. Pada 1989, Yunus menerbitkan bukunya berjudul Stilistik: Satu Pengantar Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementrian, Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur. Di dalamnya dibahas tentang:
1) Berbagai pemahaman tentang gaya
2) Gaya sebagai Mekanisme Stilistik dan sebagai tanda.
Buku ini merupakan hasil pergelutan selama 30 tahun semenjak ia berkenalan dengan istilah stilistik, sejak itu ia selalu berdialog dengan persoalan stilistika.



C.  TUJUAN STILISTIKA
Stilistika sebenarnya dapat ditujukan terhadap berbagai penggunaan bahasa, tidak terbatas pada sastra. Namun biasanya stilistika lebih sering dikaitkan dengan bahasa sastra. Berbagai tujuan stilistika. Pertama menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya. Kedua menentukan dan memperlihatkan penggunaan bahasa sastrawan, khusus penyimpangan dan penggunaan linguistik untuk memperoleh efek khusus. Keempat, mengganti kritik sastra yang bersifat subyektif dan impresif dengan analisis. Stil wacana sastra yang lebih obyektif dan ilmiah. Kelima, menggambarkan karakteristik khusus sebuah karya sastra. Keenam, mengkaji pelbagai bentuk gaya bahasa yang digunakan oleh sastrawan dalam karyanya.

RUANG LINGKUP STILISTIKA
Berbagai pakar sastra telah mengurai ruang lingkup stilistika. Dalam Pengkajian Puisi Univerisztas Gajah Mada, Yogyakarta, Pradopo (1993:10) mengurai ruang lingkup stilistika, yaitu aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam stilistika meliputi intonasi, bunyi, kata, dan kalimat sehingga lahirlah gaya intonasi, gaya bunyi, gaya kata, dan gaya kalimat. Dalam Bunga Rampai Stilistika, Sudjiman (1993:13-14) menguraikan pusat perhatian stilistika adalah style, yaitu cara yang digunakan pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana style dapat diterjemahkan sebagai gaya bahasa. Sesungguhnya gaya bahasa terdapat dalam segala ragam bahasa ragam lisan dan ragam tulis, ragam sastra dan ragam nonsastra. Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk maksud tertentu. Akan tetapi secara tradisional gaya bahasa selalu dikaitkan dengan teks sastra, khususnya teks sastra tertulis. Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan kata, struktur kalimat, majas dan citra, polarima, makna yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra.
Misalnya, kita dapat menduga siapa pengarang sebuah karya sastra karena kita menemukan ciri-ciri penggunaan bahasa yang khas, kecenderungannya untuk secara konsisten menggunakan struktur tertentu,  gaya bahasa pribadi seseorang. Misalnya, Idrus dikenal dengan gaya bahasanya yang khas sederhana.
Setelah membaca sebuah karya sastra, kita dapat juga menentukan ragamnya (genre) berdasarkan gaya bahasa teks karena kekhasan penggunaan bahasa, termasuk tipografinya. Gaya bahasa sebuah karya juga dapat mengungkapkan periode, angkatan, atau aliran sastranya. Misalnya kita dapat mengenal gaya sebuah karya sebagai gaya egaliter (gaya ragam); kita mengenal gaya realisme dalam karya yang lain (gaya aliran). Sebuah karya kita perkirakan terbit pada zaman Balai Pustaka dengan memperhatikan gaya bahasa (gaya angkatan). Menentukan gaya khas seorang pengarang (sastrawan) kita seharusnya membaca dan menelaah penggunaan bahasa dalam semua karyanya. Memastikan apa yang disebut gaya suatu ragam atau suatu jenis sastra tertentu, kita seharusnya membaca dan menelaah penggunaan bahasa dalam semua karya dari ragam dan jenisnya. Demikian pula cara kerja untuk menentukan gaya semasa (angkatan), aliran kesusastraan tertentu. Ranah penelitian menjadi terlalu luas. Ranah penelitian stilistika biasanya dibatasi pada teks tertentu. Pengkajian stilistika adalah meneliti gaya sebuah teks sastra secara rinci dengan sistematis memperhatikan preferensi penggunaan kata, struktur bahasa, mengamati antarhubungan pilihan kata untuk mengidentifikasikan ciri-ciri stilistika (stilistic features) yang membedakan pengarang (sastrawan) karya, tradisi, atau periode lainnya. Ciri ini dapat bersifat fonologi (pola bunyi bahasa, matra dan rima), sintaksis (tipe struktur kalimat), leksikal (diksi, frekuensi penggunaan kelas kata tertentu) atau retoris (majas dan citraan).
Dalam Apresiasi Stilistika, Intermasa. Natawidjaja (1986:5) menguraikan obyek stilistika atau ruang lingkup stilistika. Ia menguraikan bahwa apresiasi stilistika tiada lain usaha memahami, menghayati, aplikasi dan mengambil tepat guna dalam mencapai retorika agar melahirkan efek artistik. Berdasarkan ekspresi individual kita kenal 1). Pribahasa, 2). Ungkapan, 3). Aspek kalimat 4). Gaya bahasa, 5). Plastik bahasa, 6). Kalimat Asosiatif. Keenam obyek itu dibahas satu persatu secara singkat dengan sistematika bahasan, cara, dan daftar contoh.
Berdasar ruang lingkup stilistika di atas dan sebelumnya jelas terlihat persamaan, walaupun dengan redaksi yang berbeda. Dengan demikian ruang lingkup stilistika itu sebagai berikut.
 Pengertian Stilistika
Sejarah Stilistika
Tujuan Stilistika
Manfaat Stilistika
Hubungan Stilistika dengan Disiplin Ilmu Lain
Metodologi Penelitian Stilistika Sastra
Stilistika Puisi
Stilistika Cerita Pendek
Stilistika Novel

E.  MANFAAT STILISTIKA
Berbagai manfaat diperoleh dari stilistika bagi pembaca sastra, guru sastra, kritikus sastra, dan sastrawan. Manfaat menelaah sebagai berikut.
Mendapatkan atau membuktikan ciri-ciri keindahan bahasa yang universal dari segi bahasa dalam karya sastra lebih.
Menerangkan secara baik keindahan sastra dengan menunjukkan keselarasan penggunaan ciri-ciri keindahan bahasa dalam karya sastra.
Membimbing pembaca menikmati karya sastra dengan baik
Membimbing sastrawan memperbaiki atau meninggikan mutu karya sastranya.
Kemampuan membedakan bahasa yang digunakan dalam satu karya sastra dengan karya sastra yang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

media pembelajaran teks prosedur

media pembelajaran surat

SINTAKSIS FRASE